BandungRaya

NUSANTARA

Menyusur Dugaan Aliran Uang 1MDB ke Rekening Najib Razak

Najib Razak diperiksa terkait kasus dugaan korupsi 1MDB. (REUTERS/Lai Seng Sin)

Jakarta, (BR).- Mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak diperiksa untuk pertama kalinya atas dugaan keterlibatan dalam korupsi miliaran dolar dana yayasan investasi 1Malaysia Development Berhad (1MDB), Selasa (22/5). Butuh waktu tiga tahun sejak skandal pecah untuk tiba ke peristiwa hari ini.

Didirikan Najib pada 2009, 1MDB disebut menyalahgunakan US$4,5 miliar (sekitar Rp63,66 triliun) uang negara. Sebanyak US$700 juta di antaranya disebut mengalir ke rekening pribadi eks PM.

Dugaan penyalahgunaan dana pertama kali mencuat pada 2015 lalu. The Wall Street Journal mengungkap bahwa penyelidik Malaysia mendapati dana simpanan 1MDB sebesar US$700 juta (sekitar Rp 10 triliun) masuk ke rekening Najib.

Dilaporkan media, sejak itu, sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Singapura, hingga Swiss ikut menelusuri, bahkan membuka penyelidikan mandiri, terkait aliran dana gelap lembaga tersebut.

Penyimpangan diyakini sudah dilakukan tak lama setelah 1MDB didirikan. Pada September 2009, yayasan pemerintah itu menanam US$2,5 miliar (sekitar Rp35,3 triliun) modal dalam kerja sama dengan perusahaan minyak swasta Saudi, PetroSaudi International (PSI).

Direksi 1MDB dan bank sentral Malaysia kemudian menyetujui transaksi US$1 miliar (sekitar Rp14,14 triliun) pinjaman publik bagi proyek tersebut. Sebagai rekanan, PSI juga turut menyumbang aset senilai US$1,5 miliar (sekitar Rp21,2 triliun).

Kementerian Kehakiman AS menemukan kejanggalan bahwa US$700 juta dari US$1 miliar dana bantuan proyek gabungan itu dialihkan ke sebuah rekening atas nama Good Star Limited milik rekan Najib, Jho Low, di Swiss antara 2009-2011.

Investigasi kementerian itu mengungkap bahwa lebih dari US$1 miliar dana investasi telah dialihakan dan disalahgunakan 1MDB ke Good Star Limited.

Pada 2011, sebanyak US$330 juta (sekitar Rp4,7 triliun) dana pinjaman tambahan disebut kembali ditransfer ke rekening Good Star Limited, diduga terkait dengan perjanjian pembiayaan antara 1MDB dan perusahaan kerja sama 1MDB-PetroSaudi.

Berdasarkan penyelidikan AS, penyalahgunaan dana 1MDB diduga melibatkan pejabat pemerintahan, termasuk Najib. Dalam laporan, Najib disebut sebagai “pejabat Malaysia 1.”

Pejabat Malaysia 1 digambarkan sebagai “seorang pejabat tinggi dalam pemerintahan yang memegang kewenangan operasional 1MDB, termasuk persetujuan dalam setiap pengeluaran dana lembaga investasi tersebut.

Kementerian Kehakiman AS melaporkan dana investasi yang hilang dari 1MDB pun dialihkan ke rekening Pejabat Malaysia 1 melalui perantara.

Meski sejumlah penyelidikan telah mengindikasikan ada sejumlah penyimpangan, Najib berkeras menampik segala tudingan keterlibatannya dalam skandal.

Najib beberapa kali mencoba menghentikan penyelidikan awal pemerintah dengan memberhentikan Jaksa Agung dan beberapa komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi Malaysia.

Pada Januari 2016 lalu, jaksa agung baru pilihan Najib, Apandi Ali, menyatakan dana US$700 juta yang dipersoalkan adalah sumbangan pribadi dari keluarga kerajaan Saudi.

Sejak Najib kalah pemilihan umum 9 Mei lalu, Mahathir Mohamad, yang kembali dari masa pensiun dan terpilih lagi sebagai perdana menteri, membuka kembali penyelidikan skandal 1MDB.

Dia telah memerintahkan pencegahan imigrasi untuk Najib dan sang istri, Rosmah Mansor. Aparat pun menggeledah beberapa properti pribadi Najib dan menyita ratusan barang berharga milikinya dan sang istri yang diduga terkait kasus ini.

Di bawah perdana menteri baru, Komisi Anti-Korupsi Malaysia (MACC) kembali membuka penyelidikan yang memulai investigasi dari aliran dana 42 juta ringgit atau Rp150 miliar (sekitar Rp2.121 triliun) dari SRC International ke rekening Najib.

SRC dibentuk pada 2011 oleh pemerintahan Najib untuk mengejar investasi asing di bidang sumber daya energi, dan sempat jadi salah satu unit 1MDB sebelum dipindahkan ke bawah kementerian keuangan pada 2012.

Kantor Mahathir juga mengumumkan pembentukan satuan tugas baru yang terdiri dari sejumlah anggota badan anti-korupsi, polisi dan bank sentral.

Satgas itu akan bekerja sama dengan “penegak hukum di Amerika Serikat, Swiss, Singapura, Kanada dan negara terkait lain” untuk menyelidiki 1MDB.

Sehari sebelum diperiksa MACC, di hadapan para pendukungnya di Pahang, Najib menyatakan “Saya tidak mencuri dari rakyat.”

Dia mengatakan serangkaian tudingan terhadapnya merupakan upaya pencorengan nama baik untuk merusak Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), partai yang telah memimpin Malaysia sejak merdeka enam dekade lalu, sebelum dikalahkan tahun ini.

Kasus ini menjadi skandal finansial terbesar dalam sejarah Malaysia. Berdasarkan laporan audit yang diungkap pekan lalu, diperlukan setidaknya US$10,6 miliar (sekitar Rp150 triliun) untuk melunasi pinjaman 1MDB beserta bunga antara November 2015 sampai Mei 2039.

Perhitungan itu didasarkan pada asumsi bahwa rencana rasionalisasi 1MDB akan diimplementasikan dengan kondisi tidak ada lagi pinjaman setelah Oktober 2015. Demi membayar kembali seluruh pinjaman itu, 1MDB membutuhkan setidaknya US$382 juta (sekitar Rp5,4 triliun) setiap tahun antara November 2015 sampai Mei 2024.

Dikutip dari: cnnindonesia.com

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top