Site icon BandungRaya

Terkait Galian Tanpa Izin Terjadi Konflik Warga dan Pemiik lahan, Pemerintah Saling Tuding

WhatsApp Image 2021 04 10 at 12.43.12

Bandungraya.net-Sumedang | Diduga tanpa izin aktivitas penataan lahan atau galian tanah di Desa Makar Bakti, pemerintah setempat saling tuding, padahal dampak aktivitas penataan atau galian tersebut menimbulkan kekhawatiran warga Dusun Cibuntu, Desa Mekar Bakti, Kecamatan Pamulihan. Pasalnya, galian tanah tersebut disamping tidak ada izin, dampak galian tersebut menimbulkan tebingan yang sangat curam hingga ketinggian 9.5 meter.

Warga Dusun Cibuntu Desa Mekar Bakti beberapa waktu lalu sempat terjadi konflik dengan pihak pemilik lahan tersebut.

Seperti dikeluhkan warga, Anton pemilik lahan yang satu ampar dengan lahan galian milik Dr. Sobandi, dengan adanya galian tersebut dikhawatirkan terjadi longsor, karena setelah digali dan diambil tanahnya lahan tersebut jadi bertebing hingga ditakutkan terjadi longsor.

“Tanah itu tanah merah ketika musim hujan dikhwatirkan longsor, disamping itu, ketika terjadi longsor tanah kami akan tergerus longsor akibat galian itu tanpa dibangunnya TPT,” keluhnya.

Aan salah seorang warga Kampung Cibuntu, Desa Mekar Bakti yang tidak jauh dari lokasi galian tanah tersebut mengatakan, kegiatan penataan lahan atau galian sudah berjalan beberapa lama, namun kegiatan tersebut tanpa ada izin lingkungan sekitar.

“Kami sudah berusaha komunikasi dengan pihak pemilik lahan Dr.H Ahmad Sobandi melalui telepon seluler dan Whatsap, namun pihak pemilik lahan seakan sudah merasa benar apa yang dilaksanakan pemilik sehingga susah untuk dibawa musyawarah dengan warga setempat,” imbuh Aan.

Aan menambahkan, selama kegiatan berjalan belum pernah ada pihak pemilik atau yang lainnya minta izin lingkungan untuk galian atau pembangunan di lokasi tersebut. Padahal pada Januari lalu dirinya musyawarah dengan Camat Pamulihan beserta jajaranya di Kantor Kecamatan, Camat mengatakan surat yang dikeluarkan dari kecamatan rekomendasi izin penataan lahan.

“Sampai kegiatan galian hampir beres dan sedang melakukan pembangunan pihak terkait sama sekali tidak ada teguran atau analisa dari kegiatan tersebut, padahal kegiatan itu rekomendasi izinnya untuk penataan lahan, tetapi hasil dari galian tersebut dijual ke diluar wilayah Kabupaten Sumedang, menurut saya sementara kalau dari galian tanah itu dijual ke luar wilayah apalagi dijual ke PT yang melaksanakan pembangunan, itu harus izin galian C,” imbuhnya.

“Kami warga masyarakat Cibuntu melihat dari ketinggian tebing dari tanah yang sudah dikeruk ketinggianya sampai 6.5 -9.5 meter, itu akan menimbulkan dampak longsor, sehingga kami membuat surat ke pihak Kecamatan Pamulihan sehubungan ada pekerjaan Eksploitasi tanah dilokasi tersebut, yang dikhawatirkan menimbulkan dampak lingkungan. Surat tersebut dibuat dan dikirim 17 Maret 2021 lalu, namun tidak ada jawaban dan tindak lanjutnya dari pihak kecamatan, ada apa ini dengan Pemerintah Kecamatan Pamulihan,” ungkap Aan.

Sementara Camat Pamulihan, Herry Hardjadinata mengatakan, masalah kegiatan warga itu sudah kami laporkan kepihak kabupaten dan izinnya bukan kewenangan kecamatan itu kewenangan intansi terkait.

“Silakan saja tanya ke bersangkutan atau ke pihak desa, kami hanya menandatangan pengajuan warga,” kata Herry saat dikonfirmasi, Rabu (7/04/2021) kemarin.

Ditempat berbeda Kepala Desa Mekar Bakti, Juju Juansyah mengaku, dirinya  tidak pernah kedatangan dari pihak pemilik lahan, dan tidak menanda tangani pengajuan dari pemilik lahan untuk aktivitas galian, itu mereka langsung ke pihak kecamatan.

“Mengenai pemilik lahan saya sudah dipanggil untuk musyawarah dengan warga Dusun Cibuntu nanti hari Sabtu, dan hadir dari pihak kecamatan warga pemilik lahan dari Bandung serta warga dan Bhabinmas, Babinsa Desa Mekar Bakti,” kata Juju. (BR-17)

Exit mobile version