, GARUT | Pelaksanaan Turnamen Bola Voli Liga Desa Piala Bupati Garut tingkat Kabupaten Garut Tahun 2026 menuai sorotan. Sejumlah pihak menilai aturan pertandingan yang diterapkan panitia pelaksana (panpel) terkesan berubah-ubah dan menimbulkan kebingungan di kalangan ofisial tim.
Sejak awal turnamen, pertandingan menggunakan sistem gugur. Namun, memasuki hari ketujuh pelaksanaan, ketika masing-masing grup menyisakan dua tim, panitia justru menerapkan format silang ganda.
Perubahan sistem pertandingan tersebut menjadi tanda tanya bagi sejumlah ofisial tim peserta. Terlebih, sejak awal pelaksanaan turnamen juga terdapat sejumlah persoalan teknis, mulai dari perubahan jadwal hingga pertandingan yang sempat tertunda selama beberapa jam akibat pemadaman listrik.
“Kalau sejak awal menggunakan sistem gugur, mestinya alur pertandingan sudah jelas sampai semifinal dan final. Ketika pertandingan sudah berjalan, tiba-tiba sistem berubah menjadi silang ganda, tentu ini menimbulkan pertanyaan,” ujar salah seorang ofisial tim peserta.
Sistem Gugur dan Persoalan Perebutan Juara
Dalam sistem pertandingan gugur langsung atau single elimination, tim yang kalah langsung tersingkir dari perebutan juara. Secara umum, format delapan peserta dapat berjalan melalui babak perempat final, semifinal, kemudian final.
Pada babak final, dua tim pemenang semifinal bertanding untuk menentukan Juara 1 dan Juara 2.
Sementara itu, apabila panitia ingin menentukan peringkat ketiga dan keempat, dua tim yang kalah di semifinal dapat dipertemukan dalam pertandingan perebutan Juara 3.
Dengan demikian, formatnya menjadi:
- Perempat final
- Semifinal
- Final untuk menentukan Juara 1 dan Juara 2
- Perebutan Juara 3 antara dua tim yang kalah di semifinal
Namun, apabila sejak awal kompetisi memang menggunakan sistem juara pool, maka juara Pool 1 dapat dipertemukan dengan juara Pool 2 untuk memperebutkan Juara 1 dan Juara 2. Sedangkan jika ingin menentukan Juara 3 dan 4, dapat dilakukan pertandingan antara dua tim yang kalah di semifinal, sepanjang ketentuan tersebut telah ditetapkan sebelumnya.

Ofisial Pertanyakan Konsistensi Panitia
Perubahan format pertandingan di penghujung kompetisi dinilai perlu mendapatkan penjelasan dari panitia. Pasalnya, Liga Desa Piala Bupati Garut merupakan salah satu kompetisi yang menjadi perhatian masyarakat dan diharapkan dapat menjadi rujukan dalam penyelenggaraan pertandingan bola voli di tingkat bawah.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh ofisial Kecamatan Karangpawitan dan Kecamatan Selaawi saat berbincang seusai pertandingan kedua tim, yang dimenangkan oleh tim bola voli putra Kecamatan Karangpawitan, Minggu (6/9/2026).
Salah seorang pencinta bola voli bahkan mengaku terkejut dengan format pertandingan yang diterapkan pada Liga Desa tahun ini.
“Sebagai pencinta bola voli, bahkan kami yang tergabung dalam komunitas bola voli U40+, aturan seperti ini menjadi tren baru buat kami. Kami pun bisa menerapkan aturan seperti ini yang menurut kami tidak sesuai dengan aturan baku yang selama ini biasa kami gunakan. Kalau begitu, kami tinggal merujuk pada peraturan Turnamen Liga Desa Piala Bupati Garut Tahun 2026,” ujarnya sambil tersenyum sinis.
Menurutnya, perubahan aturan di tengah perjalanan kompetisi berpotensi menimbulkan persepsi negatif dan dapat merugikan tim yang sejak awal mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan.
Ketua PBVSI dan Kadispora Diminta Beri Penjelasan
Sejumlah pihak berharap persoalan tersebut mendapat perhatian serius dari Kabupaten Garut serta Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Garut.
“Kepada Ketua PBVSI Garut yang sekaligus Bupati Garut, serta kepada Kadispora Kabupaten Garut, kami mohon kiranya dapat memberikan penjelasan terkait aturan pertandingan Liga Desa Piala Bupati Garut ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sejak sebelum turnamen bergulir, pihaknya sudah mempertanyakan konsistensi panitia pelaksana beserta jajaran terkait dalam menjalankan regulasi pertandingan.
“Jangan sampai ketidakkonsistenan dalam pelaksanaan aturan justru menodai citra PBVSI sebagai wadah resmi olahraga bola voli di Indonesia,” tegasnya.
Para peserta pun berharap panitia dapat memberikan penjelasan secara terbuka mengenai dasar perubahan sistem pertandingan, regulasi yang menjadi acuan, serta kapan dan bagaimana perubahan tersebut ditetapkan. Dengan demikian, seluruh tim peserta memperoleh kepastian dan tidak muncul kesan bahwa aturan pertandingan dapat berubah di tengah kompetisi. ***



