– Pantai Apra berlokasi di Desa Saganten, Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Dari pusat Kota Cianjur, jarak menuju Pantai Apra mencapai sekitar 111 hingga 115 kilometer dengan waktu tempuh berkisar 3,5 hingga 4 jam perjalanan.
Sementara itu, dari Kota Bandung, ibu kota Provinsi Jawa Barat, jarak menuju Pantai Apra Sindangbarang sekitar 166 kilometer dengan waktu tempuh normal kurang lebih lima jam berkendara.
Namun, bagi masyarakat Garut Selatan yang ingin berekreasi ke Pantai Apra, perjalanan relatif lebih dekat dan cepat. Hal tersebut karena wilayah Cianjur Selatan dan Garut Selatan merupakan daerah yang secara geografis saling bertetangga.
Hal itu diungkapkan Kang Oos Supriyadin, S.E., M.M., Ketua Adat Sunda Kabupaten Garut yang menginduk kepada Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat sekaligus pemerhati sejarah dan budaya, Selasa (6/10/2026).
Lebih lanjut, Kang Oos menuturkan bahwa Pantai Apra tidak hanya memiliki panorama alam yang menarik, tetapi juga menyimpan jejak sejarah penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.
“Di Pantai Apra terdapat benteng pantai dan hamparan pasir yang cukup berkualitas. Pemandangan pantainya juga cukup memesona. Kondisinya relatif bersih sehingga dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengisi waktu liburan,” ungkapnya.
Menurutnya, wisatawan dapat melakukan berbagai aktivitas di kawasan tersebut, mulai dari menikmati pemandangan, berenang, berjemur, berolahraga, hingga mengabadikan momen dengan berfoto di sekitar pantai.
Namun, di balik keindahan alamnya, Pantai Apra menyimpan kisah sejarah yang cukup penting. Kawasan tersebut diyakini berkaitan dengan jejak peristiwa pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pada awal masa kemerdekaan Indonesia.
Perjalanan pasukan APRA yang dipimpin Kapten Raymond Westerling hingga ke wilayah Sindangbarang, Cianjur, berkaitan dengan peristiwa pemberontakan APRA di Bandung pada 23 Januari 1950.
Setelah melakukan penyerangan di Bandung dan gagal mencapai tujuannya untuk merebut kekuasaan, gerakan APRA kemudian mendapat tekanan dari kekuatan militer Republik Indonesia.
Pasukan APRA yang terdesak kemudian bergerak mundur menuju wilayah Cianjur. Di daerah tersebut, sisa-sisa pasukan APRA kembali menghadapi perlawanan dari pasukan TNI, termasuk pasukan dari Divisi Siliwangi.
Dalam pengejaran tersebut, sebagian pasukan APRA melarikan diri menuju kawasan hutan hingga wilayah pesisir selatan Cianjur. Mereka kemudian mencapai kawasan pantai yang berada di Desa Saganten, Kecamatan Sindangbarang.
Lokasi pesisir yang menjadi salah satu titik pelarian dan berakhirnya pergerakan sisa-sisa kelompok bersenjata APRA tersebut kemudian dikenal masyarakat setempat dengan nama Pantai Apra.
Dengan demikian, Pantai Apra bukan hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menyimpan jejak sejarah perjuangan TNI dan rakyat dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Tradisi Nyalawena
Selain menyimpan jejak sejarah, Pantai Apra juga memiliki daya tarik budaya, salah satunya Upacara Nyalawena.
Nyalawena merupakan ritual adat masyarakat Sunda setempat yang dilaksanakan setiap tanggal 25 Hijriah di kawasan Pantai Apra, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Tradisi tersebut menjadi bagian dari ungkapan rasa syukur dan penghormatan masyarakat terhadap alam, khususnya laut yang memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat pesisir.
Dalam pelaksanaannya, Upacara Nyalawena biasanya diisi dengan berbagai rangkaian kegiatan, seperti doa bersama, pertunjukan kesenian tradisional, serta prosesi melarung sesajen ke laut.
Sesajen yang disiapkan biasanya berupa hasil bumi dan makanan, seperti nasi tumpeng, buah-buahan, serta berbagai jenis makanan lainnya. Prosesi tersebut menjadi simbol penghormatan kepada laut sekaligus ungkapan doa dan harapan agar masyarakat, khususnya para nelayan, senantiasa memperoleh keselamatan dan keberkahan.
Tradisi Nyalawena memiliki nilai budaya dan spiritual yang tinggi. Selain menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat pesisir Cianjur, tradisi ini juga berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya bagi masyarakat dari luar daerah yang ingin mengenal lebih dekat kehidupan serta tradisi masyarakat Sunda di kawasan pantai selatan Jawa Barat.
“Tradisi Nyalawena sepertinya sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa Barat yang tinggal di kawasan pesisir selatan. Karena itu, keberadaan tradisi ini perlu terus dijaga dan dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah,” pungkas Kang Oos. ***



