– Budaya Sunda memiliki peran penting sebagai salah satu pilar utama kebudayaan Nusantara. Berbagai nilai filosofis, etos kehidupan, kesenian, serta kearifan lokal masyarakat Sunda menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa yang perlu dilestarikan dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Adat Sunda (DATSUN) Kabupaten Garut sekaligus pemerhati kesejarahan dan budaya, Kang Oos Supyadin, S.E., M.M., saat dihubungi melalui telepon, Jumat (16/10/2026).
Menurut Kang Oos, budaya Sunda merupakan keseluruhan nilai, tradisi, kesenian, dan pola hidup yang tumbuh serta berkembang di tengah masyarakat Sunda. Masyarakat Sunda selama ini dikenal memiliki karakter lembut, ramah, murah senyum, religius, serta menjunjung tinggi sopan santun.
Sementara itu, budaya Nusantara mencakup keseluruhan sistem gagasan, perilaku, tradisi, seni, bahasa, dan hasil karya yang tumbuh, berkembang, serta diwariskan secara turun-temurun oleh berbagai suku bangsa di wilayah kepulauan Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.
Secara etimologis, istilah budaya berkaitan dengan kata buddhayah yang merujuk pada budi atau akal. Adapun Nusantara berasal dari bahasa Kawi atau Jawa Kuno, yakni nusa yang berarti pulau dan antara yang merujuk pada wilayah seberang atau kepulauan.
Kedua unsur kebudayaan tersebut menjadi bagian penting dari identitas bangsa Indonesia yang mempersatukan ratusan suku bangsa dengan latar belakang adat istiadat yang beragam.
Panyeundak sebagai Pilar Kebudayaan Nusantara
Kang Oos menjelaskan, istilah Panyeundak berakar dari bahasa Sunda, yakni kata seundak, yang berkaitan dengan gerakan menahan atau mendorong menggunakan pundak.
Dalam penggunaannya, istilah diseundak berarti ditahan atau didorong menggunakan pundak, sedangkan nyeundak menggambarkan tindakan mendorong atau menahan sesuatu dengan pundak. Adapun panyeundak dalam konteks filosofi kebudayaan dimaknai sebagai sesuatu yang memiliki peran penting sebagai penopang atau pilar utama.
“Budaya Sunda ‘Panyeundak’ Budaya Nusantara mengandung makna bahwa budaya Sunda memiliki peran penting sebagai salah satu pilar utama kebudayaan Nusantara melalui nilai-nilai filosofis, etos kehidupan, dan kearifan lokal yang menjunjung tinggi keharmonisan,” demikian inti pemikiran Kang Oos.
Ia menilai, filosofi tersebut dapat menjadi landasan untuk memperkuat hubungan antara kebudayaan Sunda dan kebudayaan Nusantara secara lebih luas.
Tiga Landasan Utama Budaya Sunda
Menurut Kang Oos, setidaknya terdapat tiga landasan utama yang menunjukkan kontribusi budaya Sunda terhadap kebudayaan Nusantara.
Pertama, nilai dan filosofi utama.
Budaya Sunda memiliki sejumlah nilai luhur yang relevan dalam kehidupan bermasyarakat, di antaranya:
- Soméah Hade ka Sémah, yakni sikap ramah, santun, dan menghormati serta menjamu tamu dengan baik.
- Tritangtu, sebuah konsep yang menekankan keterhubungan dan keseimbangan antara manusia, alam, serta aspek spiritual.
- Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh, yaitu prinsip saling mengasihi, saling mencerdaskan atau memperbaiki diri, serta saling membimbing dan melindungi.
- Cageur, Bageur, Bener, Singer, Pinter, yang menggambarkan karakter ideal manusia, meliputi kesehatan, kebaikan, kebenaran, kecakapan atau kewaspadaan, dan kecerdasan.
Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis, beretika, dan saling menghargai.
Kedua, kearifan ekologis dan lingkungan.
Budaya Sunda juga memiliki tradisi pengelolaan lingkungan yang menempatkan alam sebagai bagian penting dari keberlangsungan hidup masyarakat.
Hal itu tercermin dalam pembagian kawasan hutan berdasarkan fungsi ekologis, seperti leuweung larangan, leuweung tutupan, dan leuweung baladahan.
Selain itu, sistem pertanian tradisional melalui huma, leuit atau lumbung padi, serta kebun talun menunjukkan pengetahuan lokal masyarakat Sunda dalam menjaga kesuburan tanah dan ketahanan pangan.
Kang Oos juga menyoroti masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar yang dikenal mempertahankan tradisi pertanian leluhur dan pelestarian beragam varietas padi lokal sebagai salah satu contoh ketahanan pangan berbasis kearifan lokal.
Ketiga, kesenian khas daerah.
Kekayaan budaya Sunda tercermin dalam beragam kesenian yang telah menjadi bagian dari khazanah budaya Indonesia.
Di bidang musik dan seni suara, terdapat angklung, degung, suling, serta rampak kendang. Sementara dalam seni pertunjukan, budaya Sunda memiliki wayang golek dengan tokoh ikonik Si Cepot, tari jaipongan, ketuk tilu, dan sisingaan.
Kesenian tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan juga menjadi sarana penyampaian pesan moral, ekspresi identitas masyarakat, serta pewarisan nilai budaya antargenerasi.
Melestarikan Budaya sebagai Tanggung Jawab Bersama
Lebih jauh, gagasan Panyeundak Budaya Nusantara menegaskan bahwa setiap kebudayaan daerah mempunyai kedudukan penting dalam membangun identitas nasional. Budaya Sunda, dengan nilai kesantunan, semangat kebersamaan, penghormatan terhadap alam, dan kekayaan keseniannya, menjadi salah satu unsur yang memperkuat keberagaman Indonesia.
Pelestarian budaya, karena itu, tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial. Diperlukan upaya berkelanjutan melalui pendidikan, pengenalan tradisi kepada generasi muda, penguatan peran masyarakat adat, serta pengembangan kesenian dan kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, filosofi Panyeundak diharapkan dapat menjadi pengingat bahwa kebudayaan daerah bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan fondasi penting bagi pembangunan karakter bangsa dan terpeliharanya keharmonisan dalam keberagaman Nusantara. ***



