Home / BIROKRASI / Detail

Cegah Terjadi Longsor, Pemkab Bandung Tebar 8 Ton Benih Lewat Udara

Foto Penulis | ASEP AWING • Sabtu, 31 Januari 2026 10:50 WIB
Cegah Terjadi Longsor, Pemkab Bandung Tebar 8 Ton Benih Lewat Udara

Bandung (BR.NET).- Pemerintah Kabupaten Bandung bekerja sama dengan TNI Angkatan Udara melaksanakan penebaran benih tanaman melalui metode aeroseeding atau penyemaian dari udara menggunakan pesawat terbang, Sabtu (31/1/2026). Kegiatan ini menjadi langkah konkret mitigasi bencana sekaligus mendukung program penghijauan nasional.

Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Forkopimda Kabupaten Bandung, Komandan Lanud Sulaiman Marsekal Pertama (Marsma) TNI Eko Sujatmiko, Komandan Lanud Husein Sastranegara Marsma TNI MD Irman Fathurrahman, serta unsur TNI-Polri dan perangkat daerah.

Danlanud Sulaiman Marsma TNI Eko Sujatmiko mengatakan, aeroseeding merupakan operasi penyebaran bibit tanaman melalui udara ke wilayah yang sulit dijangkau jalur darat. Bibit yang disebarkan meliputi tanaman keras, tanaman buah-buahan, serta jenis vegetasi lainnya yang berfungsi memperkuat struktur tanah.

“Pada hari ini kita melaksanakan misi aeroseeding, yaitu penyebaran bibit tanaman melalui udara. TNI Angkatan Udara bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bandung, Lanud Sulaiman dan Lanud Husein, untuk menyebarkan bibit di area-area yang telah ditentukan,” ujar Eko di Lanud Husein Sastranegara.

Ia menjelaskan, lokasi sasaran telah melalui survei dan pemetaan daerah rawan bencana, khususnya wilayah dengan potensi longsor dan erosi yang tinggi. Penyebaran dilakukan di beberapa desa, di antaranya Desa Wargaluyu, Desa Tarumajaya, dan Desa Girimulya.

“Wilayah tersebut memang membutuhkan penanaman pohon untuk memperkuat vegetasi, menyerap air, dan mengurangi potensi longsor. Ini merupakan wujud nyata kolaborasi TNI AU dengan Pemerintah Kabupaten Bandung untuk mendukung program penghijauan Presiden sekaligus pengurangan risiko bencana,” katanya.

Untuk mendukung operasi ini, TNI AU mengerahkan pesawat CASA C-212 milik Skuadron 4 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Pesawat tersebut dioperasikan oleh delapan kru yang telah mendapat briefing khusus sebelum penerbangan.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Mabes TNI dan Mabes AU, sehingga pesawat CASA 212 dapat digunakan untuk aeroseeding ini. Metode ini efektif karena area sasaran sulit dijangkau kendaraan maupun manusia,” jelas Eko.

Menurutnya, aeroseeding bukan pertama kali dilakukan TNI AU. Saat menjabat sebagai Danlanud Halim dan Danwing Malang, kegiatan serupa pernah dilakukan di lereng Gunung Arjuno pascakebakaran hutan dan lahan.

“Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa aeroseeding sangat efektif untuk penyebaran bibit secara masif di wilayah ekstrem,” tambahnya.

Sementara itu, Bupati Bandung Dadang Supriatna mengatakan, gagasan aeroseeding berawal dari evaluasi pascabencana yang terjadi di wilayah Arjasari. Ia bersama Forkopimda dan jajaran TNI AU kemudian merumuskan langkah penghijauan dengan pendekatan udara.

“Awalnya pascabencana di Arjasari. Kami rutin berdiskusi dengan Forkopimda dan Danlanud Husein setiap bulan. Dari situ muncul gagasan aeroseeding, karena banyak wilayah rawan yang tidak terjangkau kendaraan,” ujar Dadang.

Ia mengungkapkan, keterbatasan bibit sempat menjadi kendala. Namun, solusi datang dari gerakan pengumpulan biji-bijian oleh para siswa dan orang tua murid di Kabupaten Bandung.

“Alhamdulillah terkumpul 5,2 juta biji-bijian dengan berat hampir 8 ton. Bibit ini siap ditebar di Kabupaten Bandung dan wilayah perbatasan seperti Garut, Cianjur, Sumedang, dan Bandung Barat,” katanya.

Dadang menegaskan, seluruh kegiatan ini tidak menggunakan anggaran APBD, melainkan hasil kolaborasi melalui program CSR dengan pendekatan pentahelix yang melibatkan berbagai pihak.

“Ini murni kolaborasi. Kami didukung PDAM, Air Bandung Timur (ABT), Bank BJB, BPR, dan beberapa perusahaan di Kabupaten Bandung. Semua demi kepentingan warga,” ujarnya.

Adapun lokasi penebaran benih meliputi tiga wilayah utama, yakni Desa Wargaluyu Kecamatan Arjasari seluas 123 hektare, Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari seluas 137 hektare, serta Desa Girimulya Kecamatan Pacet seluas 478 hektare. Ketiganya merupakan kawasan kritis dan rawan longsor.

“Dari hasil pemetaan, ada tiga wilayah yang sangat rawan. Namun ke depan bukan hanya itu, terutama daerah perbatasan yang tidak terjangkau kendaraan,” kata Dadang.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari TNI, Polri, Kejaksaan, DPRD, PGRI, hingga para orang tua siswa yang mendukung gerakan pengumpulan biji-bijian.

“Gerakan siswa mengumpulkan biji-bijian ini luar biasa. Saya yakin ini menjadi amal jariyah karena ketika tumbuh, pohon-pohon ini akan menghasilkan oksigen dan menjaga lingkungan,” tuturnya.

Dadang berharap program aeroseeding ini menjadi inspirasi bagi daerah lain di Jawa Barat bahkan nasional.

“Mudah-mudahan ini menjadi contoh dan harapan baru bagi daerah lain. Ini lebih efektif dan sangat membantu upaya menahan erosi serta menjaga kelestarian lingkungan,” pungkasnya. ***

Tags:
Bagikan:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar