“Dengan sistem ini, masyarakat bisa memantau langsung kualitas makanan yang diberikan. Ini penting untuk membangun kepercayaan publik sekaligus menciptakan kompetisi sehat antar dapur MBG,” jelasnya.
Dikatakannya, Sumedang juga menghadirkan inovasi “Rantang Simpati” bagi lansia, sebagai bentuk perhatian terhadap kelompok rentan agar turut merasakan manfaat program tersebut.
Kendati demikian, Bupati Dony mengakui masih terdapat tantangan, seperti optimalisasi pangan lokal, stabilitas produksi pertanian, serta percepatan operasional SPPG yang telah selesai dibangun.
“Kami terus melakukan pengawasan ketat melalui rapat rutin, inspeksi mendadak, hingga pemberian sanksi bagi pelanggaran. Ini demi menjaga kualitas dan keberlanjutan program,” tegasnya.
Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN RI, Dadang Hendrayudha, menegaskan bahwa pengawasan menjadi pilar utama dalam menjaga keberhasilan program MBG.
“Program ini menyangkut kualitas generasi masa depan. Karena itu, pengawasan harus dilakukan secara ketat, terukur, dan berkelanjutan. Tidak boleh ada kompromi terhadap standar, baik dari sisi kualitas makanan, higienitas, maupun tata kelola,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan aktif pemerintah daerah sangat diperlukan, terutama dalam melakukan pemantauan langsung di lapangan serta memberikan respons cepat terhadap setiap temuan.
“Kami mendorong daerah untuk proaktif. Jika ditemukan pelanggaran atau ketidaksesuaian, segera tindak lanjuti. Koordinasi yang kuat antara pusat dan daerah menjadi kunci agar program ini berjalan optimal,” tukasnya. ***



