Perwakilan Glitch Project, Hans van den Akker, menekankan pentingnya peran lembaganya dalam menjembatani peradaban Barat dan Timur. Ia juga menyebutkan bahwa program ini mengeksplorasi aspek sejarah, baik yang berwujud maupun tidak berwujud, melalui diskusi mendalam, pemanfaatan sumber arsip, serta penguatan koneksi digital antarsekolah.
Sementara itu, Nicole van der Steen dari Avicenna School menilai bahwa sistem pendidikan di Indonesia dan Belanda dapat menjadi jembatan peradaban untuk saling mengenal, memahami, dan menghargai perjalanan sejarah kedua negara, khususnya dalam membangun masa depan yang lebih beradab.
“Kami ingin menjalin persahabatan, semacam sister school antara Avicenna School Rotterdam dengan sekolah-sekolah di Indonesia, khususnya SMP Prima Cendekia Islami. Tujuannya adalah mendorong kesepahaman dan dialog bermakna antara siswa dari budaya yang berbeda,” ujarnya.
Ia menambahkan, para siswa di kedua negara memiliki sejarah yang kaya dan kompleks. Melalui dialog terbuka dan pembelajaran bersama, siswa dapat mengeksplorasi sejarah, budaya, perspektif, serta kewarganegaraan global. Pertukaran lintas budaya ini diharapkan mendorong pemahaman, rasa hormat, serta pengembangan pandangan sejarah yang lebih komprehensif.
Sementara itu, Abhelia Permatasari, S.Pd., M.Pd., dari SMP PCI menyambut baik kerja sama lintas negara tersebut. “Insya Allah, kami akan berbagi pengalaman pembelajaran dari dua sistem pendidikan yang berbeda. Ini merupakan kerja sama internasional kedua kami, setelah sebelumnya dengan Sekolah Indonesia Singapura (SIS),” ujarnya. ***



