Home / REGIONAL / Detail

Gunem Alam dan Sarasehan Budaya Tatar Sunda Berlangsung Meriah

Foto Penulis Pewarta | GANDI • Minggu, 25 Januari 2026 16:01 WIB
Gunem Alam dan Sarasehan Budaya Tatar Sunda Berlangsung Meriah

Sumedang, (BR.NET).- Pemerintah Kabupaten Sumedang mendukung dan terbuka terhadap upaya pembangunan yang menghormati alam serta berbasis budaya Sunda dalam setiap program dan kebijakan daerah.

Tata Kelola Pemerintahan di Kabupaten Sumedang saat ini didasarkan pada nilai-nilai Sunda Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer sehingga dibuktikan dengan Kabupaten Sumedang meraih Indeks Pelayanan Publik Terbaik di tingkat Nasional.

"Kita punya nilai-nilai budaya Sunda yang telah diadaptasi dalam tata kelola pembangunan daerah sehingga Indeks Pelayanan Publik kita terbaik se-nasional," ujar Wakil Bupati Sumedang, M. Fajar Aldila saat membuka Sarasehan Tahun Baru 2026 bertajuk “Gunem Alam dan Budaya Tatar Sunda, Bersama Bos Urip” di Gedung Negara.

“Ketika alam terjaga, budaya akan tumbuh. Sebaliknya, ketika alam rusak, yang terancam bukan hanya lingkungan, tetapi juga peradaban manusia itu sendiri,” sambungnya lagi.

Menurut Wabup, berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi saat ini harus menjadi pengingat bersama untuk menata kembali cara hidup dengan menghadirkan suara budaya sebagai penuntun dalam setiap kebijakan.

Di tahun 2026, lanjut Wabup, Pemkab Sumedang mengusung tagline Sumedang Membumi di mana setiap program harus terasa oleh masyarakat.

“Setiap program pemerintah harus terlihat, teraba, dan terasa manfaatnya oleh masyarakat. Namun pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan komunitas dan berbagai elemen menjadi kunci,” ujarnya.

Wabup berharap sarasehan tersebut dapat melahirkan jejaring kolaboratif, rencana aksi, serta resolusi lingkungan yang konkret, membumi, dan berkelanjutan, tidak hanya bagi Sumedang tetapi juga Jawa Barat.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi III DPRD Sumedang, H. Endang Taufiq FR, menyatakan bahwa sarasehan ini sebagai ruang dialog dan refleksi bersama dalam memperkuat pelestarian lingkungan berbasis nilai-nilai budaya lokal.

"Budaya dan alam merupakan satu kesatuan yang saling membentuk, di mana kearifan lokal Tatar Sunda tumbuh dari alam, mengakar menjadi tradisi, nilai, dan kebiasaan positif dalam menjaga keberlanjutan lingkungan," paparnya.

"Hayu urang ngariksa alam, ngariksa budaya, culture dan nature," pesannya dalam bahasa Sunda.

Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan, Asep Maher, menyampaikan bahwa sarasehan tersebut digelar sebagai respons atas kegelisahan bersama terhadap masa depan alam dan budaya, khususnya di Tatar Sunda.

“Sunda adalah alam dan budaya. Ini bukan sekadar slogan, tetapi panggilan jiwa untuk kembali mencintai dan merawat apa yang kita miliki,” tuturnya.

Adapun kegiatan tersebut, diikuti oleh sekitar 200 peserta dari 12 kota dan kabupaten di Jawa Barat, yang terdiri dari pemerhati lingkungan, budayawan, seniman, dan aktivis dengan kepedulian yang sama.

“Harapannya, pertemuan ini tidak berhenti sebagai diskusi, tetapi melahirkan resolusi, langkah nyata, serta jejaring yang lebih kuat. Tujuan akhirnya adalah kelestarian alam dan budaya untuk anak cucu kita,” katanya. ***

Dukung Jurnalisme Kami

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat, dukung independensi kami agar terus dapat menyajikan berita yang akurat dan terpercaya.

Tags:
Bagikan:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar