Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi III DPRD Sumedang, H. Endang Taufiq FR, menyatakan bahwa sarasehan ini sebagai ruang dialog dan refleksi bersama dalam memperkuat pelestarian lingkungan berbasis nilai-nilai budaya lokal.
"Budaya dan alam merupakan satu kesatuan yang saling membentuk, di mana kearifan lokal Tatar Sunda tumbuh dari alam, mengakar menjadi tradisi, nilai, dan kebiasaan positif dalam menjaga keberlanjutan lingkungan," paparnya.
"Hayu urang ngariksa alam, ngariksa budaya, culture dan nature," pesannya dalam bahasa Sunda.
Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan, Asep Maher, menyampaikan bahwa sarasehan tersebut digelar sebagai respons atas kegelisahan bersama terhadap masa depan alam dan budaya, khususnya di Tatar Sunda.
“Sunda adalah alam dan budaya. Ini bukan sekadar slogan, tetapi panggilan jiwa untuk kembali mencintai dan merawat apa yang kita miliki,” tuturnya.
Adapun kegiatan tersebut, diikuti oleh sekitar 200 peserta dari 12 kota dan kabupaten di Jawa Barat, yang terdiri dari pemerhati lingkungan, budayawan, seniman, dan aktivis dengan kepedulian yang sama.
“Harapannya, pertemuan ini tidak berhenti sebagai diskusi, tetapi melahirkan resolusi, langkah nyata, serta jejaring yang lebih kuat. Tujuan akhirnya adalah kelestarian alam dan budaya untuk anak cucu kita,” katanya. ***



