Ambisi para raja Jawa yang sejak dulu ingin menguasai tatar Sunda akhirnya kesampaian juga tepatnya ketika berdirinya Kerajaan Mataram sebagai Kerajaan Islam dengan rajanya Sutawijaya dengan gelar Panembahan Senopati, sebagai Raja Mataram Islam Pertama tahun 1584. Setelah 11 tahun sebagai raja, tepatnya pada tahun 1595, Mataram berhasil menaklukan daerah Galuh (Ciamis) sebagai tatar Sunda yang ditaklukkan Mataram.
Kemudian raja Mataram pun berganti pada tahun 1613, Mas Rangsang putra mahkota Raja Sutawijaya naik tahta menjadi raja Mataram, dengan gelar Kanjeng Sultan Agung Senapati yang sangat berambisi untuk menguasai daerah tatar Sunda.
Seiring waktu, pengaruh Mataram di tatar sunda sangatlah kuat, hal ini berkat dukungan dari Kesultanan Cirebon tidak hanya menjadi pusa yang tidak hanya pada penyebaran agama, tetapi juga memiliki peran dalam menarik kerajaan-kerajaan Sunda untuk bergabung dengan Mataram. Dalam hal ini ArianSuriadiwangsa I sebagai keturunan Cirebon dari pernikahan antara Pangeran Ratu dan Harisbaya yang menjadi tokoh penting dalam proses penyerahan Sumedang ke tangan Mataram. Hal ini pun terjadi tanpa perlawanan berarti, yang menyebabkan kekecewaan di kalangan pejabat Kerajaan Sumedanglarang.
Kondisi psikologis inilah yang membuat Kerajaan Sumedanglarang dalam posisi terjepit dan terdesak. Maka pada tahun 1620, Aria Suriadiwangsa I selaku Raja Sumedanglarang, menyatakan penyerahan dirinya kepada Mataram. Semenjak itu, kerajaan Seumedanglarang tidak lagi berdiri sebagai kerajaan yang merdeka, tapi sebuah vazal alias bawahan Mataram dengan kedudukan bukan lagi status Kerajaan namun sebagai kabupaten.
Kala itu yang masuk wilayah Kerajaan Sumedanglarang meliputi; Sumedang, Sukapura, Bandung, Limbangan, serta sebagian Cianjur, Karawang, Pamanukan, dan Ciasem, berganti menjadi Priangan. Pada masa ini, seluruh wilayah Priangan tersebut dipimpin oleh seorang Wedana Bupati.
Yang mana Sultan Agung Raja Mataram mengangkat Aria Sruriadiwangsa I menjadi Wedana Bupati pertama dengan gelar Pangeran Dipati Kusumadinata I atau Rangga Gempol I (1620-1625).
Hal berbeda dari tatar Sunda Banten, dimana pada tahun 1651, melalui diplomasi Cirebon atas perintah Susuhunan Amangkurat I, mencoba membujuk Kesultanan Banten untuk bergabung dengan Mataram. Upaya ini dilakukan dengan dalih persaudaraan dan kesamaan kepentingan, tetapi Sultan Banten menolak dengan tegas. Bagusnya, Sultan Banten yang dikenal bijaksana menyadari bahwa mengorbankan kedaulatan negara demi hubungan persaudaraan adalah tindakan yang tidak bijak dan memalukan. Keputusan ini menjadi titik penting dalam menjaga eksistensi Banten sebagai kerajaan yang mandiri dari pengaruh Mataram.
Justru sebaliknya Banten malah membantu dan mendorong terjadinya pemberontakan pada internal Kerajaan Mataram, tepatnya pada tahun 1677, konflik semakin meruncing ketika putra mahkota Cirebon diculik oleh Amangkurat I. Kesultanan Banten, yang memiliki hubungan erat dengan Cirebon, kemudian turun tangan untuk menyelamatkan putra mahkota serta memberikan dukungan terhadap pemberontakan Trunajaya yang saat itu melawan Mataram.



