Bandung,
| Berita anak yang dikeluarkan dari sekolah dan orangtuanya tidak terima. Setelah ditelusuri ternyata anak tersebut sudak dikeluarkan dari tiga sekolah sebelumnya, hal ini membuat seorang pakar Pendidikan yang juga sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Bandung Prof. Toto Sutarto Gani Utari angkat bicara..
" Beberapa informasi mengarah ke kesimpulan anak tersebut tergolong HIPERAKTIF atau ADHD (Attention Defisit and Hyperaktifity Disorder)".
Menurut Prof Toto, Kesimpulan ini pun belum final, karena baru berdasarkan diagnose secara lisan dan tulisan, Bisa disamakan sebagai gangguan prilaku, di mana prilakunya cenderung; didorong emosi, tak terpikirkan konsekwensi atau akibat buruk, dilakukan spontan dan tidak rasional, sehingga prilaku ini disebut juga IMPULSIF, Tuturnya Pada Senin 29 Juni 2026.
" Kapan prilaku ini berbahaya untuk dirinya dan orang lain? Setelah menjadi benar-benar permanen (Karakter) berat, biasanya setelah usia 16 tahun, sehingga membutuhkan penanganan sebelum usia 16 tahun lebih khusus diperhatikan pada usia Sekolah Dasar ".
Mengapa sulit ditangani, karena orang tua, para pengelola Lembaga Pendidikan dasar atau yang bertanggung jawab terhadap prilaku anak tidak memahami prilaku ini, Jelasnya.
Di awali dengan pembentukan pola prilaku yang salah atau tidak sesuai dengan proses terbentuknya prilaku yang benar, Akhirnya akan terbentuk pola prilaku yang Inpulsif atau ADHD. Akibat dari semua ini maka akan ada reaksi dari pemerhati yang emosional, yang di Dasari kesimpiulan yang salah, yaitu anak ini berprilaku nakal atau menyimpang sehingga harus diberi hukuman hingga dikeluarkan dari sekolah.
Apa yang harus dilakukan semua pihak ke depan menghadapi kasus ini? Di setiap Lembaga pendidikan dasar harus ada tenaga pendidik (guru) yang paham prilaku hiperaktif (ADHD) atau Infulsif, bahkan lebih baik semua guru pendidikan dasar (SD – SMP) memahaminya, Ungkap Prof Toto Sutarto.
Meskipun tidak diharapkan, kasus ini bisa terjadi di tempat lain yang tidak terlaporkan. Suatu hari saya mendapat pertanyaan, “mengapa seorang peserta didik di kelas tiga yang selalu mengganggu seluruh teman satu kelas, setelah dibina selama tiga jam oleh guru BP dan berhasil menyadari hingga menangis, ke esokan harinya kambuh lagi?”, jawaban saya, pembinaan tidak cukup tiga jam, karena terbentuknya prilaku mengganggu tidak hanya dalam tiga jam, mungkin berbulan-bulan bahkan bertahun tahun.



