Home / REGIONAL / Detail

Laskar Prabowo 08 DPC Garut Tolak Penjajahan Spiritual dan Klaim Nasab sebagai Alat Kekuasaan

Pewarta Editor
Pewarta: TATANG Editor: HERI Selasa, 06 Januari 2026 18:15 WIB
Laskar Prabowo 08 DPC Garut Tolak Penjajahan Spiritual dan Klaim Nasab sebagai Alat Kekuasaan

Garut (BR.NET). Beberapa waktu lalu, sekelompok orang yang mengatasnamakan diri sebagai keturunan Nabi mendatangi Laskar Prabowo 08 DPC Garut dengan maksud menjalin sinergi. Namun, dengan pertimbangan ideologis dan prinsip organisasi, tawaran tersebut ditolak secara tegas, terbuka, dan bermartabat.

Penolakan ini bukan bentuk permusuhan terhadap agama, ulama, maupun habaib yang lurus dan berakhlak. Akan tetapi, Laskar Prabowo 08 DPC Garut menegaskan tidak memberikan ruang bagi klaim nasab atau gelar keagamaan yang dijadikan alat legitimasi politik, tekanan moral, ataupun sarana dominasi terhadap organisasi dan masyarakat.

Sekretaris Jenderal Laskar Prabowo 08 DPC Garut, Oky Nugraha Sosrowityo, menegaskan bahwa organisasi ini menolak segala bentuk penjajahan spiritual, feodalisme agama, serta manipulasi simbol-simbol keagamaan untuk kepentingan kekuasaan maupun mobilisasi massa, Selasa, (06/01/2026).

Menurutnya, penjajahan spiritual dan dakwah kebencian adalah dua wajah dari persoalan yang sama, yakni manipulasi agama demi kekuasaan.

Laskar Prabowo 08 DPC Garut menilai bahwa praktik penjajahan spiritual yang mengatasnamakan gelar keagamaan—termasuk gelar habib—tidak dapat dipisahkan dari maraknya dakwah provokatif yang menebar kebencian, amarah, dan permusuhan di tengah umat. Keduanya saling menguatkan, saling memelihara, dan sama-sama merusak akal sehat serta persatuan bangsa.

Ketika gelar keagamaan dijadikan alat legitimasi absolut, lalu dipadukan dengan retorika kasar, intimidatif, dan emosional, maka yang terjadi bukan dakwah, melainkan perbudakan spiritual. Umat diarahkan untuk tunduk tanpa berpikir, membela tanpa memahami, dan membenci tanpa nalar. Inilah bentuk feodalisme agama modern yang bertentangan dengan nilai tauhid, kemanusiaan, dan kebangsaan.

Sejalan dengan kritik almarhum Buya Ahmad Syafii Maarif, praktik mengkultuskan figur keagamaan—terlebih disertai bahasa provokatif—merupakan bentuk penyerahan akal dan iman secara membabi buta. Agama yang seharusnya membebaskan justru digunakan untuk mengontrol, mendominasi, dan memobilisasi massa demi kepentingan duniawi.

Dalam konteks ini, Laskar Prabowo 08 DPC Garut menyerukan kepada masyarakat agar menjauhi penceramah yang menjadikan mimbar sebagai panggung kebencian, dengan gaya ceramah penuh caci maki, ancaman, dan adu domba. Pola dakwah semacam ini tidak menyejukkan umat, melainkan memanaskan emosi dan berpotensi memecah belah bangsa.

Hal 1 / 2
Next

Dukung Jurnalisme Kami

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat, dukung independensi kami agar terus dapat menyajikan berita yang akurat dan terpercaya.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar

// ========================================== // 2. SISTEM CACHE SEDERHANA (SIMPAN) // ========================================== // Ambil semua kode HTML yang sudah direkam dari atas sampai bawah $html_tersimpan = ob_get_contents(); // Simpan HTML tersebut ke dalam file cache (misal: cache/8f1b...html) file_put_contents($file_cache, $html_tersimpan); // Tampilkan HTML ke pengunjung pertama yang memicu pembuatan cache ini ob_end_flush(); ?>