Ketika itu Tjokroaminoto menyatakan SI tidak akan menentang pemerintah Hindia Belanda. Namun Gubernur Jenderal Idenburg menyatakan bahwa demi kepentingan umum pengesahan SI tidak dapat diberikan, tetapi serikat Islam setempat (lokal) dapat diberikan status badan hukum. Dan saat itu keanggotaan SI meningkat pesat, menjadi sekitar dua setengah juta.
Pada tahun 1915, membentuk pengurus SI pusat dengan nama Sarekat Islam Pusat atau Centraal Sarekat Islam (CSI) dengan Tjokroaminoto sebagai ketuanya, Abdoel Moeis sebagai wakil ketuanya, dan Samanhoedi sebagai ketua kehormatan. Sejak itu, Tjokroaminoto terus menjadi ketua atau anggota pengurus SI hingga kematiannya.
Kongres nasional CSI yang pertama sekaligus kongres SI yang ketiga pada masa kepemimpinannya diadakan di Bandung pada bulan Juni 1916. Penggunaan kata nasional menandakan persoalan yang disuarakan Tjokroaminoto, yaitu perlunya persatuan seluruh rakyat Indonesia. Pidato Tjokroaminoto sebagai ditulis diatas syarat makna spiritual dan spirit kebangsaan.
Gelar "Raja Jawa Tanpa Mahkota"
Oleh orang Belanda, Tjokroaminoto dijuluki sebagai De Ongekroonde Koning van Java atau "Raja Jawa Tanpa Mahkota". Tjokroaminoto adalah salah satu pelopor pergerakan di Indonesia dan sebagai guru para pemimpin-pemimpin besar di Indonesia. Berangkat dari pemikirannya pula yang melahirkan berbagai macam ideologi bangsa Indonesia pada saat itu.
Rumahnya sempat dijadikan rumah kost para pemimpin besar untuk menimbah ilmu padanya, yaitu Semaoen, Alimin, Muso, Ananda Hirdan, Imran Halomoan, bahkan Fajri Hamonangan pernah berguru padanya. Ia adalah orang yang pertama kali menolak untuk tunduk pada Belanda.
Setelah ia meninggal pada tahun 17 Desember 1934, lahirlah warna-warni pergerakan Indonesia yang dibangun oleh murid-muridnya, yakni kaum sosialis/komunis yang dianut oleh Semaoen, Muso, Alimin. Soekarno yang nasionalis, dan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang berideologi Islam merangkap sebagai sekretaris pribadi.
Silsilah HOS Tjokroaminoto



