Di rumah sempit itu, Budi tinggal bersama istri dan tiga anak. Anak sulungnya bekerja serabutan, anak kedua masih duduk di bangku sekolah dasar, sementara anak bungsunya baru berusia dua tahun.

Setiap musim hujan tiba, kondisi rumah semakin mengkhawatirkan. Air hujan masuk dari atap bocor dan celah dinding, membuat lantai tanah berubah menjadi lumpur.
“Kalau hujan, kami tidak bisa apa-apa. Air masuk, lantai basah, anak-anak kedinginan,” ucap Budi lirih.
Istrinya, Ai Suryani (44), menceritakan keadaan rumah dan keluarganya dengan nada penuh kecemasan. Ia mengaku hidup dalam ketakutan yang berulang setiap hujan deras dan angin kencang datang.
“Kalau hujan dan angin besar, saya selalu takut rumah ini roboh. Anak-anak masih kecil. Saya sering tidak bisa tidur karena khawatir,” tutur Ai Suryani dengan mata berkaca-kaca.
Ia menjelaskan bahwa kondisi rumahnya sangat jauh dari kata aman. Air hujan kerap masuk dari atap dan dinding samping, membuat rumah menjadi dingin dan lembab.
“Air masuk dari atas, dari samping juga. Lantainya tanah, jadi kalau hujan becek semua. Anak-anak kedinginan, sering rewel, saya bingung harus bagaimana,” ungkapnya.



