Bandung,
| Museum Pendidikan Nasional Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) semakin memantapkan langkah menuju museum berbasis teknologi digital. Upaya tersebut diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Inovasi Digitalisasi Museum Pendidikan Nasional: Digitalisasi Koleksi Pendidikan pada Masa Pendudukan Jepang (1942–1945)" yang digelar pada Senin (27/7/2026) di Museum Pendidikan Nasional UPI.
Forum ini menjadi ruang kolaborasi antara akademisi, praktisi media, pakar teknologi digital, dan pengelola museum untuk merumuskan arah pengembangan museum yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran modern yang mampu menghadirkan pengalaman edukatif yang lebih menarik, interaktif, dan mudah diakses oleh masyarakat.
Kegiatan tersebut menghadirkan Prof. Dr. Leli Yulifar, M.Pd., Kepala Museum Pendidikan Nasional UPI, Prof. Dr. Dadan Wildan, M.Hum., dosen Program Studi Pendidikan Sejarah UPI, serta Billy Muhammad, pakar inovasi digital dari Rumah Media Indonesia (MRI).
Kepala Museum Pendidikan Nasional UPI, Prof. Leli Yulifar, menegaskan bahwa transformasi digital merupakan langkah strategis yang harus dilakukan museum agar tetap relevan di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi.
Menurutnya, paradigma museum telah mengalami perubahan. Museum tidak lagi hanya dipandang sebagai ruang penyimpanan artefak sejarah, tetapi berkembang menjadi pusat pengetahuan yang mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih mendalam melalui pemanfaatan teknologi digital.
"Digitalisasi koleksi merupakan langkah strategis agar sejarah dapat diakses lebih luas oleh masyarakat. Melalui teknologi Artificial Intelligence (AI), Virtual Reality (VR), dan Augmented Reality (AR), Museum Pendidikan Nasional ingin menghadirkan pengalaman baru dalam memahami sejarah pendidikan Indonesia," ujar Prof. Leli.
Ia menjelaskan, penerapan Artificial Intelligence (AI) memungkinkan museum memiliki pemandu virtual yang dapat berinteraksi langsung dengan pengunjung, menjawab berbagai pertanyaan, menerjemahkan informasi ke berbagai bahasa, mengenali koleksi secara otomatis, hingga membantu proses restorasi arsip dan dokumen sejarah melalui teknologi pengolahan citra digital.
Sementara itu, teknologi Virtual Reality (VR) akan membawa pengunjung merasakan suasana pendidikan pada masa pendudukan Jepang secara imersif. Pengunjung dapat memasuki ruang kelas era 1940-an, menyaksikan proses belajar mengajar, hingga merasakan atmosfer pendidikan pada masa perang seolah berada langsung di dalamnya.



