Keesokan harinya, Mimin menceritakan kejadian itu kepada saudara-saudaranya. Namun menurut A, tidak ada respons serius dari keluarga terhadap dugaan percobaan pelecehan tersebut.
Merasa kecewa dan tidak mendapat perlindungan, Mimin akhirnya memilih meninggalkan kampung halamannya.
Dalam kondisi rumah tangga A sendiri tengah diguncang konflik dengan istri dan anak-anaknya, A mengaku nekat membawa Mimin keluar dari lingkungan yang disebutnya penuh tekanan.
“Dia datang meminta tolong. Saya melihat seorang perempuan yang merasa sendirian dan tidak dilindungi keluarganya,” kata A.
Mimin kemudian dibawa bekerja ke sebuah pabrik cuanki di Sumedang milik kerabat mereka. Di tempat itulah keduanya melangsungkan pernikahan siri. Namun keputusan tersebut justru memicu gejolak besar.
Pada Minggu, 19 Maret 2026, suasana rumah A di Ciparay berubah tegang ketika sejumlah keluarga Mimin bersama tokoh lingkungan mendatangi rumahnya.
Mereka mempertanyakan legalitas pernikahan siri yang dilakukan tanpa wali nasab.
Menurut A, rombongan yang datang terdiri dari anggota keluarga, ketua RT, RW, hingga tokoh agama setempat. Situasi disebut berubah menjadi tekanan massal terhadap dirinya dan Mimin.



