Home / PENDIDIKAN / Detail

PCI Serial Lecture menghadirkan Prof. Dr. Leli Yulifar, M. Pd

Foto Penulis | ASEP AWING • Senin, 26 Januari 2026 14:52 WIB
PCI Serial Lecture menghadirkan Prof. Dr. Leli Yulifar, M. Pd

Bandung (BR.NET)- SMP Prima Cendekia Islami (PCI) Baleendah, Kabupaten Bandung, kembali menggelar salah satu kegiatan unggulannya, PCI Serial Lecture. Agenda bulanan ini menghadirkan para guru besar, akademisi, birokrat, dan praktisi untuk memberikan kuliah umum kepada para siswa SMP PCI.

Pada edisi kali ini, PCI Serial Lecture menghadirkan Prof. Dr. Leli Yulifar, M.Pd., Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sekaligus Kepala Museum Pendidikan Nasional Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Leli memperkenalkan konsep Smart Museum kepada para siswa. Kegiatan ini berlangsung pada Senin, 26 Januari 2026.

Para siswa dibekali materi komprehensif mengenai sejarah pendidikan, permuseuman, serta transformasi museum menuju era digital. Menurut Prof. Leli, pembelajaran dari masa lalu tidak hanya bersumber dari buku dan arsip, tetapi juga dari artefak sejarah yang tersimpan di museum.

“Museum saat ini telah bermetamorfosis dari sekadar ‘gudang’ artefak menjadi sumber inspirasi, imajinasi, dan digitalisasi,” ujar Prof. Leli.

Salah satu contoh transformasi tersebut adalah Museum Pendidikan Nasional di bawah naungan UPI. Museum ini menampilkan beragam diorama, artefak, miniatur, hingga koleksi langka yang merepresentasikan perjalanan pendidikan dari masa prasejarah hingga era modern. Sebagai museum pendidikan, pengunjung dapat menelusuri evolusi pendidikan dari zaman kuno hingga masa kini.

“Kita tidak boleh hanya terpaku pada masa lampau, tetapi harus berorientasi ke masa depan. Museum Pendidikan Nasional menjadi bukti bahwa sejarah masa lalu dapat dinikmati dan diapresiasi untuk masa kini dan masa depan,” ungkap pakar museologi asal Ciamis tersebut.

Prof. Leli menegaskan bahwa Museum Pendidikan Nasional UPI dihadirkan untuk mengubah citra museum yang selama ini terkesan kuno dan hanya berisi benda antik. Museum diharapkan menjadi institusi yang dirindukan, menyenangkan, serta menjadi ruang komunikasi interaktif antara masa lalu dan masa kini di era digital. Inilah esensi dari Smart Museum, yakni museum pintar yang memanfaatkan teknologi terkini.

Saat ini, Museum Pendidikan Nasional UPI terus bertransformasi menjadi Smart Museum dengan mengadopsi teknologi canggih guna meningkatkan pengalaman pengunjung, pelestarian artefak, serta pemanfaatan teknologi digital.

“Museum tidak lagi sekadar tempat pameran benda kuno, melainkan jembatan antara masa lalu dan era digital,” jelasnya.

Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah teknologi imersif, seperti Augmented Reality (AR) yang mampu menghidupkan objek statis melalui rekonstruksi digital atau pemulihan warna asli pada artefak. Selain itu, Virtual Reality (VR) memungkinkan pengunjung “bepergian” ke lokasi bersejarah atau ke era asal artefak tersebut.

Ke depan, pihak museum juga akan mengintensifkan interaktivitas digital melalui sentuhan interaktif dan galeri digital berskala besar yang memungkinkan banyak pengguna menjelajahi arsip museum secara bersamaan. Tak hanya itu, konsep gamifikasi juga dikembangkan dengan menghadirkan elemen permainan, seperti perburuan harta karun digital, untuk meningkatkan keterlibatan anak-anak dan remaja.

Untuk mendukung pengembangan tersebut, dalam waktu dekat Museum Pendidikan Nasional UPI akan menjalin kerja sama dengan Faculty of Archaeology, Cairo University, salah satu institusi terkemuka di Mesir dan Timur Tengah di bidang arkeologi, serta The National Museum of Egyptian Civilization (NMEC), museum terbesar di dunia yang menampilkan sejarah peradaban Mesir secara komprehensif.

Pemaparan tersebut menutup rangkaian PCI Serial Lecture kali ini dengan antusiasme tinggi dari para siswa. ***

Tags: SMP PCI
Bagikan:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar