Kab. Bandung, (BR.NET).- Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang berlangsung di Masjid Agung Al Fathu, Selasa (26/1/2026), tidak hanya dimaknai sebagai refleksi atas perjalanan spiritual Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi ruang perenungan bersama terhadap berbagai ujian kemanusiaan, khususnya bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Barat.
Di hadapan jamaah, Bupati Bandung Dadang Supriatna yang akrab disapa Kang DS menyampaikan duka cita mendalam atas musibah longsor yang terjadi di Kabupaten Bandung Barat dan menelan korban jiwa.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bandung, saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas musibah longsor di Kabupaten Bandung Barat. Hingga saat ini tercatat sembilan orang meninggal dunia dan sekitar 80 orang masih dinyatakan hilang. Proses pencarian sangat memilukan, karena yang ditemukan bukan lagi jasad korban secara utuh, melainkan potongan organ tubuh. Ini sungguh mengetuk nurani kita semua,” ujar Kang DS dengan nada haru.
Ia menegaskan bahwa peringatan Isra Mi’raj sejatinya menjadi momentum refleksi spiritual yang sarat pesan kemanusiaan, di mana ibadah ritual harus berjalan seiring dengan kepedulian sosial.
“Isra Mi’raj mengajarkan tentang shalat, kedisiplinan, kepedulian, serta hubungan manusia dengan Allah dan sesama. Dalam konteks bencana, ini mengingatkan kita bahwa ikhtiar, empati, dan kebersamaan merupakan bagian dari ibadah,” tuturnya.
Sebagai bentuk konkret kepedulian, Kang DS menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Bandung telah menginstruksikan seluruh aparatur sipil negara (ASN) untuk terlibat dalam gerakan peduli bencana bagi wilayah terdampak, khususnya Kabupaten Bandung Barat.
“Saya telah menginstruksikan melalui rapat koordinasi agar ASN Kabupaten Bandung melakukan aksi solidaritas untuk KBB. Ini wujud empati sekaligus pengingat bahwa bencana dapat terjadi di mana saja, termasuk di wilayah kita sendiri,” katanya.
Lebih lanjut, Kang DS mengungkapkan bahwa Kabupaten Bandung saat ini berada dalam kondisi kewaspadaan tinggi. Ia menyebut adanya sejumlah laporan retakan tanah di beberapa wilayah, seperti Kamojang, Kecamatan Ibun, hingga Kutawaringin.
“Di Kamojang terdapat retakan sepanjang sekitar 30 meter yang setelah dilakukan asesmen harus segera ditangani dengan pembangunan TPT, karena di sekitarnya terdapat rumah dan warung warga yang perlu dievakuasi. Sementara di Kutawaringin, lebar retakan mencapai 50 sentimeter. Ini tidak bisa dianggap sepele,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa upaya mitigasi bencana bukan semata tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan kesadaran dan kepatuhan masyarakat.
“Saya telah menginstruksikan Kalak BPBD agar mitigasi bencana dilakukan secara serius dan berkelanjutan, termasuk edukasi kepada masyarakat. Di Kabupaten Bandung terdapat sekitar 15 kecamatan yang masuk kategori rawan dan memerlukan perhatian khusus,” ungkapnya.
Menurut Kang DS, BPBD Kabupaten Bandung juga telah melakukan asesmen serta pelatihan kebencanaan kepada masyarakat, termasuk simulasi menghadapi gempa dan penentuan titik aman evakuasi.
“Alhamdulillah, asesmen dan pelatihan terus dilakukan. Masyarakat harus mengetahui langkah penyelamatan diri saat bencana terjadi. Ini menyangkut keselamatan nyawa,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kesadaran warga untuk mematuhi imbauan pemerintah, khususnya saat diminta mengungsi dari wilayah berisiko tinggi.
“Kami sudah mengimbau warga di sejumlah lokasi rawan untuk mengungsi, namun masih ada yang memilih bertahan. Karena itu, saya meminta dibuatkan pernyataan agar ketika terjadi bencana, tidak menyalahkan pemerintah. Ini bukan bentuk lepas tanggung jawab, melainkan penegasan bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama,” jelasnya.
Menutup sambutannya, Kang DS menegaskan bahwa nilai-nilai Isra Mi’raj harus diwujudkan dalam sikap nyata, baik dalam menjaga keselamatan sesama maupun merawat alam sebagai bagian dari amanah kehidupan. ***



