Resensi Buku : "Jakarta 1998 : Dari Soeharto Ke Habibie, Krisis Ekonomi, Tragedi Trisakti, dan Jatuhnya Orde Baru".  Buku Putih 98 Untuk Generasi Z

A. Eddy Adriansyah
Oleh: A. Eddy Adriansyah Sabtu, 12 September 2026 20:40 WIB
Resensi Buku : "Jakarta 1998 : Dari Soeharto Ke Habibie, Krisis Ekonomi, Tragedi Trisakti, dan Jatuhnya Orde Baru".  Buku Putih 98 Untuk Generasi Z

BR.NET | Sore ini, di atas meja kerja saya, tergeletak sebuah buku tebal berjudul “Jakarta 1998: Dari Soeharto ke Habibie”. Penulisnya pasangan akademisi senior dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof.Dr. Dadan Wildan, M.Hum seorang sejarawan, dan Siti Komariah, M. Si., Ph.D., seorang sosiolog. 

Kedua penulis mencoba membedah sejarah yang kegetiran dan ketegangannya, masih lekat dalam ingatan sekaligus tetap hangat sebagai bahan obrolan, bagi mereka yang pernah mengalaminya secara langsung. Namun begitu, rasa-rasanya, apa yang terjadi sekitar 1998 itu belum terlalu lengkap diketahui, oleh generasi muda yang kita kenal dengan sebutan popular Gen Z dan Gen Alpha. Maka, upaya pasangan akademisi senior ini dalam bahu membahu menulis buku tebal ini, patut pula dikaitkan dengan kebutuhan Gen Z dan Alpha dalam memahami sejarah reformasi '98 secara lengkap.

Buku ini membuat saya mengenang kembali wajah-wajah penuh peluh di terminal-terminal bus dan angkutan umum yang gerah dan sumuk, di mana orang-orang kecil bicara pesimis tentang harga beras, sambil memandang ngeri ke arah gedung-gedung tinggi yang mulai terbakar. Gaya penulisan buku ini serius, mungkin terlalu serius untuk sebuah zaman yang sudah gila. Ia membedah krisis ekonomi, tragedi Trisakti, hingga jatuhnya Orde Baru dengan ketelitian seorang dokter yang tengah melakukan otopsi.

Buku ini dimulai dengan sebuah potret satir, meski penulisnya mungkin saja tidak bermaksud begitu. Bayangkan, seorang penguasa besar yang sudah bertakhta selama tiga puluh dua tahun, tiba-tiba harus menunduk di hadapan seorang asing bernama Michel Camdessus dari lembaga keuangan internasional, IMF. Camdessus berdiri dengan tangan bersilang di dada, seperti seorang tuan tanah yang sedang menagih utang kepada petani yang gagal panen. Di situ, kedaulatan kita rasanya seperti selembar uang lusuh lagi robek pinggiran-pinggirannya.

Nilai rupiah, yang sebelumnya begitu gagah pada kisaran angka Rp. 2.500, tiba-tiba jatuh tersungkur hingga Rp. 17.000 per dolar. Rakyat yang sebelumnya tenang tiba-tiba berubah kalap. Mereka menyerbu toko swalayan, memborong minyak goreng, mi instan dan beras, seolah-olah besok dunia mau kiamat. Penulis menggambarkan kepanikan itu dengan sangat gamblang. Di pasar-pasar, orang-orang saling sikut untuk mendapatkan “Sembilan Bahan Pokok”. Sementara itu, di istana, para pejabat masih sempat-sempatnya bilang bahwa "badai pasti berlalu". Ya, badai memang berlalu, tapi ia juga membawa atap rumah dan seluruh isi dapur rakyat kecil.

Buku ini juga menyajikan angka-angka inflasi, diiringi soal pengkhianatan besar terhadap kepercayaan publik. Pengkhianatan besar yang dimanifestasikan ke dalam praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), yang mengukir karat selama puluhan tahun, sehingga membuat fondasi negara keropos. Ketika krisis datang, fondasi yang keropos oleh karat itupun runtuh seketika. Mahasiswa, anak-anak muda yang darahnya masih panas dan belum banyak dicemari oleh materialisme, turun ke jalan-jalan. Mereka tidak hanya minta harga bensin turun, tapi minta harga diri bangsa dikembalikan.

Mahasiswa dan Deru Reformasi dalam Debu Jakarta 1998

Membicarakan buku “Jakarta 1998: Dari Soeharto ke Habibie” tanpa membedah peran mahasiswa, laksana sayur tanpa garam. Ia menjadi hambar dan kehilangan esensi. Dalam karya Profesor Dadan Wildan dan Doktor Siti Komariah ini, mahasiswa digambarkan bukan sebagai gerombolan anak muda yang sekadar hobi bolos kuliah, melainkan sebagai "anak-anak haram" dari sebuah rezim, yang terlalu lama mematikan nalar politik di ruang pendidikan.

Penulis

Tentang Penulis

A. Eddy Adriansyah

Penulis adalah kontributor di rubrik Kolom Bandungraya.net. Isi tulisan ini sepenuhnya merupakan gagasan, opini, dan tanggung jawab pribadi penulis.

Bagikan Opini Ini:

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada tanggapan. Sampaikan pendapat Anda!

Tulis Tanggapan