BR.NET | Sore ini, di atas meja kerja saya, tergeletak sebuah buku tebal berjudul “Jakarta 1998: Dari Soeharto ke Habibie”. Penulisnya pasangan akademisi senior dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof.Dr. Dadan Wildan, M.Hum seorang sejarawan, dan Siti Komariah, M. Si., Ph.D., seorang sosiolog.
Kedua penulis mencoba membedah sejarah yang kegetiran dan ketegangannya, masih lekat dalam ingatan sekaligus tetap hangat sebagai bahan obrolan, bagi mereka yang pernah mengalaminya secara langsung. Namun begitu, rasa-rasanya, apa yang terjadi sekitar 1998 itu belum terlalu lengkap diketahui, oleh generasi muda yang kita kenal dengan sebutan popular Gen Z dan Gen Alpha. Maka, upaya pasangan akademisi senior ini dalam bahu membahu menulis buku tebal ini, patut pula dikaitkan dengan kebutuhan Gen Z dan Alpha dalam memahami sejarah reformasi '98 secara lengkap.
Buku ini membuat saya mengenang kembali wajah-wajah penuh peluh di terminal-terminal bus dan angkutan umum yang gerah dan sumuk, di mana orang-orang kecil bicara pesimis tentang harga beras, sambil memandang ngeri ke arah gedung-gedung tinggi yang mulai terbakar. Gaya penulisan buku ini serius, mungkin terlalu serius untuk sebuah zaman yang sudah gila. Ia membedah krisis ekonomi, tragedi Trisakti, hingga jatuhnya Orde Baru dengan ketelitian seorang dokter yang tengah melakukan otopsi.
Buku ini dimulai dengan sebuah potret satir, meski penulisnya mungkin saja tidak bermaksud begitu. Bayangkan, seorang penguasa besar yang sudah bertakhta selama tiga puluh dua tahun, tiba-tiba harus menunduk di hadapan seorang asing bernama Michel Camdessus dari lembaga keuangan internasional, IMF. Camdessus berdiri dengan tangan bersilang di dada, seperti seorang tuan tanah yang sedang menagih utang kepada petani yang gagal panen. Di situ, kedaulatan kita rasanya seperti selembar uang lusuh lagi robek pinggiran-pinggirannya.
Nilai rupiah, yang sebelumnya begitu gagah pada kisaran angka Rp. 2.500, tiba-tiba jatuh tersungkur hingga Rp. 17.000 per dolar. Rakyat yang sebelumnya tenang tiba-tiba berubah kalap. Mereka menyerbu toko swalayan, memborong minyak goreng, mi instan dan beras, seolah-olah besok dunia mau kiamat. Penulis menggambarkan kepanikan itu dengan sangat gamblang. Di pasar-pasar, orang-orang saling sikut untuk mendapatkan “Sembilan Bahan Pokok”. Sementara itu, di istana, para pejabat masih sempat-sempatnya bilang bahwa "badai pasti berlalu". Ya, badai memang berlalu, tapi ia juga membawa atap rumah dan seluruh isi dapur rakyat kecil.
Buku ini juga menyajikan angka-angka inflasi, diiringi soal pengkhianatan besar terhadap kepercayaan publik. Pengkhianatan besar yang dimanifestasikan ke dalam praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), yang mengukir karat selama puluhan tahun, sehingga membuat fondasi negara keropos. Ketika krisis datang, fondasi yang keropos oleh karat itupun runtuh seketika. Mahasiswa, anak-anak muda yang darahnya masih panas dan belum banyak dicemari oleh materialisme, turun ke jalan-jalan. Mereka tidak hanya minta harga bensin turun, tapi minta harga diri bangsa dikembalikan.
Mahasiswa dan Deru Reformasi dalam Debu Jakarta 1998
Membicarakan buku “Jakarta 1998: Dari Soeharto ke Habibie” tanpa membedah peran mahasiswa, laksana sayur tanpa garam. Ia menjadi hambar dan kehilangan esensi. Dalam karya Profesor Dadan Wildan dan Doktor Siti Komariah ini, mahasiswa digambarkan bukan sebagai gerombolan anak muda yang sekadar hobi bolos kuliah, melainkan sebagai "anak-anak haram" dari sebuah rezim, yang terlalu lama mematikan nalar politik di ruang pendidikan.
Sejak awal 1998, ketika rupiah sudah terkapar tak berdaya menghadapi dolar, mahasiswa mulai gerah. Di kampus-kampus, dari Jakarta hingga Yogyakarta, muncul teriakan-teriakan yang mulanya malu-malu, lalu menjadi lantang, "Turunkan harga!"
Buku ini menyoroti betapa cerdiknya gerakan mahasiswa saat itu. Mereka tidak langsung menyerang jantung kekuasaan dengan isu suksesi, melainkan memulainya dari "urusan perut" rakyat. Isu kenaikan harga sembako dan susu menjadi pintu masuk yang sangat strategis untuk merangkul simpati masyarakat luas. Sayang, rezim Orde Baru yang sudah berkarat itu menanggapi mereka dengan dingin. Aparat keamanan disiagakan, blokade dipasang, dan peluru karet mulai bicara.
Lalu datanglah tanggal 12 Mei 1998. Sebelum eskalasi, dari televisi kita menyaksikan senyum manis artis Wanda Hamidah, yang kala itu masih mahasiswi, membagi-bagikan bunga kepada aparat, yang sedang bertugas menjaga demonstrasi mahasiswa. Siapa mengira, hari itu akan menjadi hari paling muram bagi Universitas Trisakti dan Indonesia.
Empat mahasiswa tewas diterjang peluru pada sore hari, ketika pengunjuk rasa justru sedang bersiap-siap rehat. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Heri Hertanto, dan Hendriawan Sie. Penulis buku mencatat, mereka mati bukan karena perang melawan musuh dari luar, tapi karena peluru dari senjata yang dibeli dengan uang rakyat sendiri. Ini adalah puncak dari komedi hitam yang bernama kekuasaan Orde Baru.
Setelah darah muda tumpah Jakarta pun jadi membara. Kerusuhan Mei 1998 digambarkan sebagai sebuah adegan neraka di tengah kota metropolitan. Pusat perbelanjaan dijarah, bangunan dibakar, dan kelompok etnis tertentu dijadikan kambing hitam atas kegagalan para penguasa. Di sini, buku ini menunjukkan betapa tipisnya batas antara peradaban dan kebiadaban, ketika perut sudah dikoyak lapar dan kemanusiaan tanggal setanggal-tanggalnya.
Di Universitas Trisakti, sejarah mencatat dengan tinta darah ketika empat mahasiswa tewas diterjang peluru tajam. Buku ini menggambarkan dengan sangat getir bagaimana kampus yang seharusnya menjadi tempat persemaian ide, berubah menjadi ladang pembantaian. Kematian Elang Mulia Lesmana dan kawan-kawannya bukanlah sekadar angka statistik, melainkan lonceng kematian bagi kekuasaan Soeharto.
Hal yang menarik dari analisis dalam buku ini adalah bagaimana mahasiswa mampu memecah kebuntuan politik. Ketika lembaga perwakilan seperti MPR sudah menjadi sekadar "stempel" yang menetapkan Soeharto kembali menjabat untuk ketujuh kalinya, mahasiswalah yang membentuk parlemen jalanan sesungguhnya. Mereka menolak dialog seremonial dan pemuas nafsu sementara yang ditawarkan oleh petinggi militer. Mereka menuntut satu hal yang pasti, Reformasi Total !
Gerakan mahasiswa 1998, atau yang kemudian dikenal sebagai Angkatan 98, digambarkan memiliki militansi yang mengingatkan kita pada Revolusi Pemuda 1945. Mereka menduduki gedung DPR/MPR, sebuah simbol kekuasaan yang selama tiga dekade tak tersentuh. Di bawah terik matahari dan ancaman bayonet, mereka bertahan, berorasi, dan bernyanyi, hingga akhirnya sang Jenderal Besar terpaksa menyatakan "berhenti" dari jabatannya pada 21 Mei 1998.
Buku ini menegaskan bahwa tanpa desakan dari barisan "Jaket Kuning" dan rekan-rekan mereka dari berbagai universitas di seluruh Indonesia, transisi kekuasaan ke B.J. Habibie mungkin tidak akan pernah terjadi secepat itu. Mahasiswa adalah katalisator yang memaksa sejarah untuk bergerak lebih cepat ketika para politikus senior masih sibuk saling sikut dan mencari selamat di bawah ketiak penguasa.
Membaca bagian tentang mahasiswa ini, kita diingatkan bahwa nurani bangsa seringkali lebih terjaga di tangan mereka yang belum memiliki kepentingan jabatan. Mereka adalah wajah dari sebuah keberanian yang jujur di tengah kemunafikan yang akut.
Sandiwara Terakhir Istana dan Kabinet Seumur Jagung
Maka tibalah kita pada babak yang paling dramatis dalam buku ini, sebuah adegan yang lebih mirip sebuah komedi getir daripada proses suksesi negara yang agung. Penulis, dengan ketelitian yang tajam, membedah detik-detik menjelang 21 Mei 1998. Di sana, kita melihat seorang Soeharto, yang selama tiga puluh dua tahun tak pernah sekali pun terlihat ragu, tiba-tiba berdiri di sebuah persimpangan jalan yang gelap dan buntu.
Drama ini mencapai puncaknya ketika Kabinet Pembangunan VII, yang baru saja dilantik dengan penuh percaya diri, mendadak rontok seperti daun kering di musim kemarau. Bayangkan, baru kemarin sore mereka berbaris rapi mencium tangan sang Jenderal, namun begitu angin reformasi berembus kencang dan Jakarta mulai berasap, para menteri itu ramai-ramai "cuci tangan". Empat belas menteri bidang ekonomi dan industri secara serentak menolak bergabung dalam Komite Reformasi yang digagas Soeharto. Ini adalah pengkhianatan yang paling jujur, sebuah isyarat bahwa ketika kapal mulai karam, tikus-tikus adalah yang pertama melompat ke air.
Pada pagi hari yang bersejarah itu, di Istana Merdeka, Soeharto membacakan pidato pengunduran dirinya dengan suara yang datar, sedatar garis nasibnya hari itu. Ia menyatakan berhenti, bukan mengundurkan diri, sebuah pilihan kata yang oleh para ahli hukum dianggap sebagai upaya terakhir untuk menjaga martabat. Namun, rakyat di luar sana tidak peduli pada tata bahasa. Bagi mereka, yang penting adalah sang penguasa sudah turun dari singgasananya.
Buku ini kemudian menyoroti nasib B.J. Habibie, yang tiba-tiba "kejatuhan bulan" dan harus dilantik sebagai Presiden ke-3 di tengah suasana yang masih bau asap dan amis darah. Habibie mewarisi sebuah negara yang sedang babak belur. Ekonomi hancur, kepercayaan publik berada di titik nol, dan militer bingung menentukan arah. Kabinet Pembangunan VII yang hanya seumur jagung itu digantikan oleh Kabinet Reformasi Pembangunan, sebuah tim yang harus bekerja dalam pengawasan ketat mata mahasiswa, yang masih terus berjaga di depan gedung DPR.
Menariknya, buku ini tidak hanya berhenti pada pergantian kursi. Ia juga mencatat bagaimana Habibie, yang sering diejek sebagai "anak emas" Soeharto, justru melakukan langkah-langkah yang cukup berani seperti, membebaskan tahanan politik, memberikan kebebasan pers, dan menyiapkan pemilu yang benar-benar demokratis. Ini adalah paradoks yang indah. Seorang yang dibesarkan di bawah ketiak otoritarianisme, justru menjadi bidan yang membidani lahirnya demokrasi.



