Bandung,
| Rencana Pemerintah Kabupaten Bandung yang akan mengalihfungsikan bangunan bekas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soreang menjadi gedung definitif SMP Negeri 5 Soreang memunculkan dua sisi pandang yang sama-sama penting. Di satu sisi, pemerintah ingin memperluas akses pendidikan negeri dan menambah daya tampung peserta didik. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan besar yang hingga kini belum terjawab secara terbuka. Apakah kebijakan tersebut telah mempertimbangkan dampaknya terhadap sekolah-sekolah swasta yang telah puluhan tahun menjadi bagian dari sejarah pendidikan di Kabupaten Bandung?
Pemerintah menyampaikan bahwa pemanfaatan aset eks RSUD Soreang merupakan solusi untuk menyediakan gedung permanen bagi SMPN 5 Soreang yang selama ini masih menumpang, sekaligus menjawab kebutuhan ruang belajar yang terus meningkat.
Namun, lokasi yang dipilih justru menjadi sorotan.
Di sekitar lokasi tersebut telah berdiri dua sekolah swasta yang sejak puluhan tahun lalu ikut berperan mencerdaskan generasi Kabupaten Bandung. Ribuan alumni telah dilahirkan dari kedua lembaga pendidikan tersebut. Tidak sedikit di antaranya kini menjadi aparatur pemerintah, tokoh masyarakat, akademisi, pengusaha, hingga profesional di berbagai bidang.
Ironisnya, berdasarkan kondisi di lapangan, kedua sekolah swasta tersebut hingga saat ini masih berjuang memenuhi kuota peserta didik baru pada setiap tahun ajaran. Artinya, persaingan memperoleh siswa sudah terjadi bahkan sebelum SMPN 5 memiliki gedung sendiri.
Jika nantinya sekolah negeri berdiri tepat di kawasan yang sama dengan daya tarik biaya pendidikan yang gratis, publik tentu wajar bertanya, apakah kondisi itu akan semakin memperberat perjuangan sekolah swasta dalam memperoleh peserta didik?
Persoalan ini bukan sekadar soal bertambahnya satu sekolah negeri. Yang menjadi perhatian adalah apakah Pemerintah Kabupaten Bandung telah melakukan kajian yang komprehensif mengenai dampak kebijakan tersebut terhadap dua sekolah swasta yang berada di sekitar lokasi? Sebab, sebuah kebijakan publik semestinya tidak hanya menyelesaikan satu persoalan, tetapi juga mengantisipasi munculnya persoalan baru.
Apabila jumlah peserta didik di sekolah swasta terus menurun, dampaknya bukan hanya pada angka penerimaan siswa. Keberlangsungan operasional sekolah, kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan, hingga eksistensi lembaga pendidikan yang telah mengabdi selama puluhan tahun juga dapat ikut terdampak.



