“TMMD adalah napas pengabdian kami. TNI tidak datang membawa jarak, tapi datang membawa hati. Kami bekerja bersama masyarakat, tidur bersama masyarakat, dan membangun bersama masyarakat,” kata Samto Betah.
Menurutnya, keberhasilan TMMD tidak diukur dari seberapa cepat proyek selesai, tetapi dari seberapa kuat rasa memiliki masyarakat terhadap hasil pembangunan.
“Kalau jalan ini dijaga, dimanfaatkan, dan dirawat bersama, di situlah TMMD benar-benar hidup. Karena tujuan kami bukan sekadar membangun fisik, tapi membangun kesadaran dan kemandirian desa,” tambahnya.
Upacara pembukaan TMMD Ke-127 dihadiri sekitar 450 orang, melibatkan unsur TNI, Polri, Forkopimda, OPD Kabupaten Bandung, pemerintah desa, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, hingga pelajar. Prosesi berlangsung khidmat dengan rangkaian tradisi militer yang sarat makna kebangsaan.
Sinergi lintas sektor juga tercermin dari berbagai kegiatan pendampingan, mulai dari bantuan Rutilahu, benih dan pakan lele, domba ternak, bantuan pangan, alat permainan PAUD, layanan kesehatan, hingga penanaman bibit pohon sebagai komitmen pembangunan berwawasan lingkungan.
Momen keakraban semakin terasa saat pemotongan tumpeng HUT ke-6 Kodim 0624/Kabupaten Bandung, di mana Kang DS menyerahkan potongan tumpeng kepada Dandim Samto Betah, disambut tepuk tangan dan senyum warga.
TMMD Reguler Ke-127 di Desa Cipelah menjadi penanda bahwa pembangunan sejati bukan hanya soal anggaran dan target, tetapi tentang kehadiran, kebersamaan, dan keberpihakan. Di desa, pembangunan menemukan maknanya—dan di Cipelah, harapan itu mulai dibangun, satu langkah, satu gotong royong. ***



