Home / PENDIDIKAN / Detail

UPI Dorong Transformasi Pembelajaran Sejarah Berbasis Ecopedagogy, Libatkan 100 Guru di Majalengka

Pewarta Editor
Pewarta: HERI Editor: BR.NET Rabu, 05 Agustus 2026 16:32 WIB
UPI Dorong Transformasi Pembelajaran Sejarah Berbasis Ecopedagogy, Libatkan 100 Guru di Majalengka

Majalengka, BR.NET | Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) terus mendorong transformasi pembelajaran sejarah yang lebih relevan dengan tantangan zaman melalui pendekatan ecopedagogy. Upaya tersebut diwujudkan dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang digelar di Kampus Politeknik Mardira Indonesia, Kabupaten Majalengka, Rabu (5/8/2026).

Mengusung tema "Transformasi Pembelajaran Sejarah Berbasis Ecopedagogy: Membangun Kesadaran Historis, Karakter, dan Kepedulian Lingkungan untuk Generasi Berkelanjutan", kegiatan ini diikuti sekitar 100 guru Sejarah SMA/SMK dan guru IPS SMP se-Kabupaten Majalengka yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah.

Workshop tersebut menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, sekaligus wadah transfer hasil penelitian, inovasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan kepada masyarakat, khususnya para pendidik.

Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah UPI, Dr. Tarunasena, M.Pd., mengatakan bahwa kegiatan PKM merupakan sarana bagi sivitas akademika untuk memperkuat kapasitas guru sebagai ujung tombak peningkatan kualitas pendidikan nasional.

"Melalui PKM, perguruan tinggi tidak hanya menjalankan fungsi akademik, tetapi juga mentransformasikan hasil penelitian dan inovasi pembelajaran agar dapat diterapkan secara nyata di sekolah," ujarnya saat membuka kegiatan.

Workshop menghadirkan sejumlah Guru Besar dan dosen FPIPS UPI, di antaranya Prof. Dr. Nana Supriatna, M.Ed., Prof. Dr. Erlina Wiyanarti, M.Pd., Prof. Dr. Dadan Wildan, M.Hum., Prof. Dr. Wawan Darmawan, M.Pd., serta sejumlah dosen muda Pendidikan Sejarah.

Dalam pemaparannya, Prof. Nana Supriatna memperkenalkan konsep Green History dan Ecopedagogy sebagai pendekatan baru dalam pembelajaran sejarah yang tidak hanya berorientasi pada kronologi masa lalu, tetapi juga membangun kesadaran ekologis peserta didik.

Menurutnya, berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi dunia saat ini memiliki akar sejarah yang panjang sehingga pembelajaran sejarah harus mampu menghubungkan pengalaman masa lalu dengan upaya membangun masa depan yang berkelanjutan.

"Green History mengajak kita melihat sejarah melalui relasi manusia dengan alam. Krisis lingkungan yang kita hadapi saat ini sesungguhnya memiliki akar sejarah yang panjang. Karena itu, pembelajaran sejarah harus mampu menumbuhkan kesadaran ekologis agar para murid belajar dari pengalaman masa lalu untuk membangun masa depan yang berkelanjutan," jelas Prof. Nana.

Ia menambahkan, ecopedagogy mengintegrasikan nilai keberlanjutan, keadilan ekologis, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan ke dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik tidak hanya memahami sejarah, tetapi juga mampu berpikir kritis terhadap persoalan lingkungan dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Sementara itu, Prof. Dadan Wildan memperkenalkan paradigma History Education 5.0, yakni model pembelajaran sejarah yang memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), teknologi digital, dan jaringan pembelajaran sebagai sarana memperkuat kemampuan berpikir historis.

"History Education 5.0 menempatkan teknologi sebagai instrumen untuk memperkuat kemampuan berpikir historis, kreativitas, literasi digital, kolaborasi, serta pembentukan karakter kebangsaan. Guru tetap menjadi aktor utama yang membimbing para murid memanfaatkan teknologi secara bijaksana," ungkapnya.

Pada sesi berikutnya, Prof. Dr. Erlina Wiyanarti memaparkan model Perencanaan Pembelajaran Sejarah Berbasis Ecopedagogy dengan Pendekatan ERLINA, yang menawarkan kerangka sistematis dalam menyusun perangkat pembelajaran melalui integrasi capaian pembelajaran, asesmen autentik, pembelajaran berbasis proyek, serta nilai-nilai keberlanjutan lingkungan.

"Perencanaan pembelajaran harus mampu menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna. Melalui pendekatan ERLINA, guru dapat merancang pembelajaran sejarah yang kontekstual, inovatif, sekaligus membangun kesadaran ekologis para murid," jelasnya.

Adapun Wakil Dekan FPIPS UPI, Prof. Dr. Wawan Darmawan, M.Pd., menyoroti pentingnya kemampuan guru dalam melakukan telaah kritis terhadap buku teks sejarah.

Menurutnya, buku teks seharusnya menjadi titik awal pembelajaran, bukan satu-satunya sumber pengetahuan. Guru didorong memperkaya materi melalui sejarah lokal, arsip, museum, tradisi lisan, hingga hasil penelitian terbaru agar peserta didik memperoleh perspektif sejarah yang lebih luas dan komprehensif.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung dinamis. Para peserta bersama para narasumber mendiskusikan implementasi ecopedagogy dalam kurikulum, pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan dalam pembelajaran sejarah, serta pengembangan perangkat ajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik abad ke-21.

FGD tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, di antaranya memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan MGMP, mengembangkan model pembelajaran sejarah berbasis lingkungan, memperluas pemanfaatan sumber belajar lokal, serta meningkatkan kompetensi guru dalam menghadapi tantangan pendidikan di era Society 5.0.

Melalui kegiatan PKM ini, Program Studi Pendidikan Sejarah FPIPS UPI berharap terbangun sinergi yang semakin kuat antara perguruan tinggi, sekolah, dan komunitas guru dalam menghadirkan pembelajaran sejarah yang inovatif, berkarakter, berwawasan lingkungan, sekaligus mampu melahirkan generasi yang memiliki kesadaran sejarah dan kepedulian terhadap keberlanjutan masa depan. ***

Sponsored Content

Dukung Jurnalisme Kami

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat, dukung independensi kami agar terus dapat menyajikan berita yang akurat dan terpercaya.

Tags:

Komentar (2)

R

Rifann Pratama

07 Aug 2026, 09:49

Mohon untuk guru sejarah SMAN kdipaten untuk di tingkatkan belajar nyaa kasian muridnya yang ingin melanjutkan kuliah di PTN, yang harus di kejar itu nilai akademik bukan non akademik...juga tolong fokuskan ke teori pembelajaran bukan ke eskul WAJIB

R

Rifann

06 Aug 2026, 20:00

Buat yg guru sejarah kdipen mohon perbanyak materi buat siswa/wi krna mereka yg ingin melanjutkan kuliah negeri masa difokuskan saja diorganisasi

Tulis Komentar