Majalengka,
| Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) terus mendorong transformasi pembelajaran sejarah yang lebih relevan dengan tantangan zaman melalui pendekatan ecopedagogy. Upaya tersebut diwujudkan dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang digelar di Kampus Politeknik Mardira Indonesia, Kabupaten Majalengka, Rabu (5/8/2026).
Mengusung tema "Transformasi Pembelajaran Sejarah Berbasis Ecopedagogy: Membangun Kesadaran Historis, Karakter, dan Kepedulian Lingkungan untuk Generasi Berkelanjutan", kegiatan ini diikuti sekitar 100 guru Sejarah SMA/SMK dan guru IPS SMP se-Kabupaten Majalengka yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah.
Workshop tersebut menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, sekaligus wadah transfer hasil penelitian, inovasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan kepada masyarakat, khususnya para pendidik.
Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah UPI, Dr. Tarunasena, M.Pd., mengatakan bahwa kegiatan PKM merupakan sarana bagi sivitas akademika untuk memperkuat kapasitas guru sebagai ujung tombak peningkatan kualitas pendidikan nasional.
"Melalui PKM, perguruan tinggi tidak hanya menjalankan fungsi akademik, tetapi juga mentransformasikan hasil penelitian dan inovasi pembelajaran agar dapat diterapkan secara nyata di sekolah," ujarnya saat membuka kegiatan.
Workshop menghadirkan sejumlah Guru Besar dan dosen FPIPS UPI, di antaranya Prof. Dr. Nana Supriatna, M.Ed., Prof. Dr. Erlina Wiyanarti, M.Pd., Prof. Dr. Dadan Wildan, M.Hum., Prof. Dr. Wawan Darmawan, M.Pd., serta sejumlah dosen muda Pendidikan Sejarah.
Dalam pemaparannya, Prof. Nana Supriatna memperkenalkan konsep Green History dan Ecopedagogy sebagai pendekatan baru dalam pembelajaran sejarah yang tidak hanya berorientasi pada kronologi masa lalu, tetapi juga membangun kesadaran ekologis peserta didik.
Menurutnya, berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi dunia saat ini memiliki akar sejarah yang panjang sehingga pembelajaran sejarah harus mampu menghubungkan pengalaman masa lalu dengan upaya membangun masa depan yang berkelanjutan.



