Hampir setiap kali turun hujan, baik intensitas ringan maupun berat, Jalan Raya Moh Toha-Dayeuhkolot selalu tergenang air dengan kedalaman yang bervariasi antara 15 hingga 50 sentimeter.
Hal ini tidak hanya mengganggu pergerakan kendaraan tetapi juga menyebabkan kemacetan panjang yang seringkali berlangsung hingga berjam-jam.
"Kawasan ini merupakan pusat industri yang padat dengan ribuan pekerja yang beraktivitas setiap hari. Selain itu, jalur ini juga menjadi akses utama yang menghubungkan Kota Bandung dan Kabupaten Bandung," jelas Tri Rahmanto.
Panitia Pentahelix Penanganan Banjir Dayeuhkolot yang terdiri dari perwakilan pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media massa, telah melakukan survei lapangan secara berkala selama tiga bulan terakhir untuk melakukan mitigasi kondisi aktual saluran drainase dan dampak banjir yang terjadi.
Selain rencana pengerukan selokan dan saluran drainase, Tri Rahmanto juga mengungkapkan bahwa Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat telah menetapkan jadwal untuk melanjutkan pembangunan Jembatan Utama Dayeuhkolot yang membentang di atas Sungai Citarum.
"Tadi juga disampaikan bahwa pembangunan Jembatan Dayeuhkolot akan dilaksanakan di tahun 2026 ini sambil menunggu rekomendasi teknis dari pihak BBWS Citarum," ungkap Tri Rahmanto.
Pentahelix, lanjut dia, menyambut baik rencana pembangunan Pembangunan Jembatan Dayeuhkolot ini. Sebab, jembatan ini menjadi bagian penting dari upaya menyempurnakan sistem drainase dan transportasi di kawasan Dayeuhkolot.
Selain pengerukan dan pembangunan jembatan, Panitia Pentahelix juga sedang menyusun program edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga sungai dan kebersihan saluran drainase dan pengelolaan sampah yang tepat.



