KAB. BANDUNG (BR).- Perilaku sebagai aksi atau reaksi anggota tubuh, Prilaku ini dikendalikan oleh pola memori di dalam otak, Isi memori berdasarkan informasi yang masuk ke dalam tubuh, isi memori inilah yang kemudian dibentuk menjadi pola prilaku.
Begitulah setiap insan berusaha membangun pola prilaku di dalam memorinya, semua berusaha agar pola memorinya bagus, pada saat inilah semua orang membutuhkan arsitek pola memori yang disebut pendidik. Mengapa dibutuhkan pendidik? Karena pendidik itu mengarsiteki pola memori ke arah prilaku positif, Hal tersebut diutarakan Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Bandung Prof. Dr. H. Toto Sutarto Gani Utari M. Pd menyikapi Bullying yang menimpa siswa SMAN Negeri di kabupaten Bandung, Rabu 14 Pebruari 2023.
Menurut Toto Sutarto, Alasan mendasar setiap orang memilih pendidik karena manusia ini mahluk social, yang akan selalu tergantung kepada manusia lain dalam urusan hidupnya dalam rangka saling membutuhkan satu sama lain, sehingga tidak ada komunikasi yang merugikan salah satu di antaranya,
Indahnya hubungan social seperti itu, dan begitulah prilaku normal seorang manusia.
Dosen S2 dan S3 bidang Karakter Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon yang saat ini menduduki Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Bandung ini mengungkapkan saat individu membutuhkan arsitek, tetapi tidak ditemukan atau tidak diperoleh sang arsitek yang sebenarnya, saat itu dalam individu tersebut akan terbentuk pola prilaku yang tidak diharapkan.
Perilaku yang tidak diharapkan ini kemudian akan bersebrangan dengan prilaku yang lain di dalam sistem social, maka prilaku seperti itu disebut prilaku menyimpang, Ujarnya.
Menurut Prof. Toto Sutarto Gani Utari Bullying adalah sebutan salah satu prilaku menyimpang, karena bullying berusaha untuk mementingkan diri sendiri tidak menghiraukan kepentingan orang lain, bahkan bullying berusaha mengeksploitasi individu lain dalam komunitasnya atau dalam system social di mana yang bersangkutan juga sebagai anggota system social tersebut.
Sambut Toto, Bullying berprilaku melewati batas dengan melakukan kekerasan dan melukai orang lain, Akan menjadi parah bila sudah menjadi kepuasan saat prilaku menyimpang dilakukan, prilaku ini akan menjadi permanen pada seseorang bahkan sekelompok orang, kemudian menjadi karakter bagi orang atau kelompok tersbut, Tegas Toto.
Masih Kata Ketua Dewan Pendidikan, Yang harus dipikirkan saat ini adalah bagaimana mengendalikan prilaku menyimpang dan bagaimana mencegah agar tidak terjadi prilaku menyimpang.
Kembali ke bahasan awal, siapkan sang arsitek dengan sebaik-baiknya. Para arsitek prilaku harus disiapkan dengan berbagai Langkah agar semua kemampuan yang diperlukan untuk mendidik dikuasainya.
Menurut Prof. Toto Sutarto, Langkah ini yang sedang disiapkan oleh pengurus Dewan Pendidikan Kabupaten Bandung masa kerja 2023-2028. Dengan sendirinya harus bersinergi dengan Dinas Pendidikan, Sekolah dan stakeholder Pendidikan Kabupaten Bandung. Kami Dewan Pendidikan Kabupaten Bandung berekstrapolasi, apabila prilaku-prilaku menyimpang peserta didik tidak segera ditangani, maka akan dengan cepat membentuk komunitas yang besar, Ungkapnya.
Dijelaskan Prof. Toto Sutarto, pendidik berarti membangun atau membentuk tingkah laku positif, Apabila yang terbentuk prilakunya negatif, berarti tidak terjadi proses Pendidikan. Mengajar juga mebangun atau membentuk prilaku, bedanya prilaku yang terbentuk tidak bisa dipisahkan antara yang negative dengan yang positif, terlalu Panjang disampaikan di sini mengapa demikian.
Prilaku yang terbentuk akan menjadi permanen yang kemudian disebut karakter, Sehingga mendidik atau mengajar berarti membangun atau membentuk karakter.
” Sering salah pelaksanaan, inginnya mendidik tetapi kenyataannya mengajar, sehingga banyak prilaku negative disebut hasil didikan, padahal gurunya tidak paham makna Pendidikan, “.
Membangun karakter peserta didik di Sekolah tidak bisa dipisahkan dengan mata pelajaran, berarti membentuk karakter harus di dalam mata pelajaran, sehingga apabila dipisah dari mata pelajaran maka akan menjadi karakter tersendiri di luar rangkaian mata pelajaran di dalam kurikulum.
Kenyataannya banyak praktek membangun karakter di luar proses pembelajaran mata pelajaran, hasilnya bisa menjadi karakter yang diharapkan, tetapi di luar karakter yang harus muncul dari pembelajaran mata pelajaran. Kenyataan ini akhirnya sering menuduh bahwa sekolah tidak membentuk karakter siswanya karena tidak ada pembinaan ekskul (pelajaran di luar jam pembelajaran) atau lessons outside of regular lessons, Jelas Prof. Toto.
Apabila setiap guru memahami makna karakter dan mampu membangunnya dalam proses belajar mengajar, semua persoalan karakter peserta didik dan lulusannya akan menyejukan seluruh stakeholder Pendidikan.
Apakah baik program ekskul diadakan? Dengan pasti dinyatakan baik, dengan syarat harus, di bawah pengawasan langsung pimpinan sekolah, pembinanya harus dari unsur sekolah yang bersangkutan.
Apa manfaatnya ekskul? Bisa membangun soft skill peserta didik dan membangun karakter lain di luar mata pelajaran sesuai kurikulum.
Apakah karakter yang dihasilkan ekskul bisa dihasikan hanya dengan pelajaran reguler saja?
” Sebagian besar bisa apabila guru setiap mata pelajaran paham karakter dan pembentukannya, kecuali karakter spesifik seperti jenis-jenis olahraga dan kesenian. Beberapa ekskul membentuk karakter bekal hidup, salah satunya Pramuka “.
Ekskul seperti ini harus terus mengikuti perkembangan teknologi, jangan rutinitas karena akan menimbulkan kejenuhan pada peserta dan pembinanya, hal ini akan berakibat muncul prilaku-prilaku yang menyimpang dan akan memanfaatkan kegiatannya untuk melampiaskan penyimpangannya tersebut.
Prilaku menyimpang Pembina dan peserta juga masuk ke dalam karakter atau prilakau permanen, bila ini sudah terbentuk sulit sekali untuk memperbaikinya.
Untuk menanggulangi kekhawatiran hal ini terjadi maka harus dilakukan Kerjasama antara sekolah dengan organisasi yang berkaitan dengan ekskul tersebut.
Dan dikatakan Toto Sutarto, Salah satu yang harus dibicarakan antara sekolah dengan organisasi tersebut adalah, harus diupayakan ekskul ini bisa masuk ke dalam pembelajaran mata pelajaran regular.
Masih banyak guru mata pelajaran yang belum paham karakter dan proses pembentukannya, ini akan berakibat sulit peserta didik bisa menggunakan hasil belajarnya di kehidupan sehari harinya, sekali lagi ini tidak bisa ditanggulangi oleh program lain. Jalan keluarnya hanya dengan melakukan pembinaan tenaga pendidik agar paham karakter dan bagaimana pembentukannya.
Diakhir Tanggapannya Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Bandung yang juga sebagai Staf Khusus Rektor Unpas Bidang Penguatan Karakter dan Dosen Bidang Karakter Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon mengatakan sangat sulit sekali diterima, seandainya ada kenyataan pembina karakter berkarakter menyimpang, berat sekali apabila kejadian seperti ini kemudian tidak mendapat perhatian, Pungkas Prof. Dr. H. Toto Sutarto Gani Utari M. Pd. (BR.01)
Discussion about this post